Selasa, 30 September 2014

Ceritaku



Tuesday, October 21, 2008
AKU INGIN KAU BILANG CINTA
dina swe3t.jpgohaura yesha.jpg“aku sayang kamu…”<wah romantis banget> fikirku saat aku menonton sebuah film dari laptopku. Tiba-tiba aku melihat kearah sebuah foto yang tepat berada disamping tempat tidurku, sebuah foto aku dan pacarku, Richie, Richie ngak pernah punya ekspresi selama kami pacaran dan foto yang terpampang didekat tempat tidurku itu pun hanya sebuah kebetulan saat temanku tak sengaja memoto kami.
“ina.. kenapa masih nonton, belum tidur ya” mama mengetuk pintu kamarku “iya mama, ntar lagi ina matiin ma, ini ina udah mau tidur” aku pun bergegas hendak mematikan laptopku, tapi sebelum laptopku mati, aku melihat foto aku sama Richie goncengan dan ini pun hanya kebetulan yang diambil temanku saat Richie mengantar aku pulang. Sebelum aku naik keatas tempat tidur aku memeriksa handphoneku berharap ada pesan masuk atau telfon dari Richie, dan ternyata aku  harus menutup malam ini dengan helaan nafas yang cukup panjang atas kekecewaanku pada pacarku, Richie.
Pagi yang cukup cerah tapi tetap aja ngak didukung sama perasaan hatiku yang saat itu masih bisa dikatakan cukup kecewa. “pagi sayang…” papa dan mama menyapaku setelah aku memberi salam terlebih dahulu pada mereka “pagi mam…pap…” mama dan papa memberi senyuman yang sangat indah tapi tetap aja belum bisa meredakan rasa kecewaku. “hari ini ada ekskul tambahan, sayang” papa menanyakan kegiatan ekskulku sambil memberikan aku tempat disampingnya “ngak ada kok pa, ya paling ntar Richie kalau lagi baek ngajak ina jalan-jalan” mama tersenyum mendengar jawabanku, yup mama dan papa dah tau kalau aku pacaran sama Richie, karena aku sering cerita ya walaupun mama dan papa belum pernah lihat Richie.

Disekolah
Aku melangkahkan kakiku dengan sedikit gontai menuju ruang kelasku “eh non loe kenapa?” hera temanku menyapaku sambil menepuk pundakku “ngak apa-apa kok” aku melihat kearah hera dan memberi senyum padanya “hai…sefina erinta, mana kak Richie, kok kalian berdua ngak pergi bareng” yui mendekat kearah kami juga sambil memegang pundakku dan pernyataannya makin membuat aku sedih. “ye mana pernah lagi ina sama kak Richie datang bareng keskul” hera menyenggol pundak yui “iya ya padahal kan kak Richie bawa kereta dan elokan pacarnya kak Richie, bukan ya” aku melihat kearah yui dan mencoba tersenyum tapi ngak menjawab pertanyaannya “loe lagi marahan ya sama kak Richie, atau kak Richie nyakiti hati loe” aku melihat kearah hera aku berfikir mungkin sedikit enak kalau kak Richie membuat dia cemburu ataupun malah kak Richie yang cemburu, tapi hal yang buruk aja ngak pernah terjadi dalam hubungan kami, aku selalu bertanya aku pacarnya kak Richie, bukan ya’ aku melihat kearah yui dan mencoba tersenyum tapi ngak menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba saat mataku memperhatikan sekeliling, mataku tertuju pada sesosok pria yang tak lain adalah Richie “ina itu kak Richie” yui menunjuk kearah Richie dan ternyata suara yui cukup kuat terdengar, saat itu pula hera menyenggol tanganku, memberi tau bahwa didepan kami sekarang terlihat seorang Richie, “iya aku dah liat dia kok” aku masih asik menatap kearah Richie tanpa aku sadari saat aku lagi asik-asiknya melihat kearah Richie tiba-tiba aja Richie melihat aku tapi dengan cepat pula Richie langsung membuang pandangannya buat menghindariku, hal itu membuat aku cukup shock dan jengkel, aku pun meninggalkan tempat berdiri kami dihalaman kelas. “ina… tunggu…” hera dan yui berlari mencoba mengejarku.
Jam istirahat pun akhirnya berbunyi dan itu membuat aku makin jengkel, aku hanya duduk dan ngak mau ikutan bermain ataupun istirahat kekantin, walaupun yui dan hera mengajakku “ayolah ina, kita bertiga kekantin”  yui menarik-narik tanganku “ayolah…” hera pun ikutan mengajak aku tapi aku pun tetap menolak “ngak ah her,yui aku…” belum sempat aku menyelesaikan bicaraku, yui menyenggol tanganku “ina, ada kak Richie tuh” mataku langsung tertuju kearah dia yang mencoba berjalan kearahku “Richie…” desahku pelan tanpa didengar oleh teman-temanku, tanpa menunggu ancang-ancang hera dan yui langsung pergi dan meninggalkan kami hanya berdua “hai ina…” ya hanya itulah selalu sapaan pertama dari Richie tanpa menyelipkan kata-kata yang lain seperti sayang, dia ngak pernah dan atau malah ngak akan pernah memanggil aku sayang. “siang kak Richie…” aku pun balas menjawab ucapannya.
Aku cuma ingin jelasin, aku dan Richie satu sekolahan tapi beda kelas, aku adik kelas Richie satu tahun. Richie menyatakan cintanya dan menginginkan aku jadi pacarnya saat aku tepat berulang tahun tanggal 26 september setahun yang lalu saat aku masih duduk dikelas satu tapi hingga saat ini Richie seakan ngak pernah menganggap aku jadi pacarnya, ya walaupun itu hanya sekedar perasaan aku aja.
“ina…nanti pulang sekolah sama sapa?” Richie hanya melirik aku sebentar, setelah itu membuang pandangan kedepan papan tulis dan aku merasa dia hanya menginginkan jawaban kilat dan singkat dariku “ngak sama sapa-sapa kak” aku melihat kearah Richie yang masih asik dengan pandangan mengarah papan tulis, aku mencoba mengikuti arah pandangan matanya dan ingin  mengetahui apa yang membuat dia tertarik buat tidak menatap aku dan kenyataan aku tak menemukan sesuatu yang menarik hanya papan tulis yang kosong yang baru saja dihapus oleh ketua kelas kami. “mau ngak pulang sama aku” Richie mengajak aku dan seperti biasa tanpa ada sedikit basa-basi, aku tetap aja ngak bisa menolak karena aku memang benar-benar sayang sama dia. Bagiku Richie adalah cowok yang hampir mendekati kata sempurna selain pintar pelajaran dia juga pintar main basket dan dia keren lagi. “iya kak, boleh” aku pun memberi jawaban yang cukup singkat “oo..ya udah nanti tunggu aku ya” Richie hanya cukup mengatakan itu dan tanpa basa-basi pula dia ngak ada buat permisi keaku, dia langsung pergi begitu aja. Sebenarnya aku sudah cukup lama ingin menanyakan padanya tentang hubungan kami, tapi aku belum berani aku takut dia tersinggung dan mengatakan aku manja atau malah mengatakan aku anak-anak. Saat Richie hendak melangkahkan kaki keluar pintu kelas, dia berhenti sebentar dan aku menunggu apa yang akan dilakukannya dan ternyata dia langsung aja berlalu, aku pun menarik nafas cukup panjang buat menahan emosiku yang hampir saja mau keluar, sebenarnya saat itu yang ingin aku lakukan adalah teriak dan bilang kerichie ‘(Richie..sebenarnya dimata loe ataupun bagi loe aku ini sapa sih?)’ sesaat setelah itu aku melongokkan kepalaku buat melihat kearah Richie berharap Richie akan melihat aku dan ternyata tidak sama sekali dan ketika itu pula sebuah mutiara yang tak ku harapkan keluar secara bergantian kearah pipiku yang saat itu memerah karena menahan amarah, yup aku sekarang lagi kecewa dan menangis.
Sepulang sekolah
Aku sengaja memperlambat jalanku kearah parkiran tempat Richie menunggu agar aku bisa melihat ekspresi Richie yang marah dan kesal sama aku dan tau apa kenyataan yang terjadi masih seperti biasa Richie sama sekali tidak mengeluarkan ekspresinya. Dia menunggu aku diatas keretanya sebelum aku menaiki keretanya “kak Richie…” aku tepat berada dibelakangnya dan berharap dia memperhatikan aku dan ternyata tidak sama sekali, dia hanya menyuruh aku naik “ayo naik..” ya hanya itu kata yang keluar dari bibir merahnya yang mampu membuat setiap hati wanita buat relain ninggalin pacar mereka, dia ngak memberikan respon apapun padaku “kak Richie…ina ngak jadi pulang sama kakak” saat itu pula Richie mematikan keretanya yang sedari tadi sudah mau dibawanya melaju bersama aku, aku menunggu pertanyaan yang aku inginkan dari dia yaitu aku berharap dia menanyakan alasan yang aku harus beri padanya tapi kenyataannya Richie tanpa sedikit pun melirik aku hanya mengatakan “ya udah…” aku tercengang mendengar perkataan Richie tanpa ada ancang-ancang mutiara bening kembali menemani pipiku yang memerah, yup benar lagi-lagi aku menangis tapi itupun Richie ngak melihatnya. Aku memang cewek cengeng yang punya daya singgung cukup besar. Aku pun memutuskan buat meninggalkan Richie tanpa pamitan kedia dan aku pun berlalu. Setelah beberapa langkah jauh darinya, Richie menaikkan gas keretanya cukup keras dan aku ngak tau apa mksud kejadian yang dilakukan Richie, dari jauh aku masih bisa melihat Richie melajukan keretanya cukup kencang dan itu membuat aku khawatir.
Sesampainya dirumah
Mama memperhatikan wajahku yang saat itu tampak murung “kamu kenapa sayang? Terus Richie mana, emangnya dia ngak mengantar kamu?” mama membelai lembut rambutku dan merangkul pundakku “ina ngak tau ma, ina ngak ngerti jalan pikiran Richie, ina ngak tau, ina harus gimana sama dia, ina bingung ma” mama masih merangkul pundakku, kami bercerita sambil masuk kedalam kamarku “memangnya kenapa sayang, kalian berdua ngak lagi marahan kan” mama melihat kearahku yang saat itu duduk diatas tempat tidurku “gimana mau marahan ma, Richie itu ngak pernah ngasih kejelasan sama ina, Richie itu ngak pernah punya ekspresi sama ina, ngak tau ya kalau sama teman-temannya” aku kelihatan makin kesal, aku pun merebahkan badanku, sambil mengeluarkan suaraku seperti lagi membentak-bentak mama padahal aku Picture 170.jpgmasih marah sama Richie “ina berfikir positif aja, mungkin Richie ada masalah, atau bagaimana gitu, mungkin Richie meminta pengertian dari ina kali” mama memberikan aku semangat dan sepertinya mama membela Richie “mama tau ngak gimana cara Richie menyatakan cintanya sama ina” aku mendekat kearah mama dan memegang tangan mama “kan ina pernah cerita, richie nyatain cinta sama ina tepat pada hari ulang tahun ina, dan mama fikir itu cukup romantis” mama membelai rambutku, dan aku pun memberi sedikit senyuman sama mama dan menjauh dari mama “ma…awalnya ina juga menganggap itu adalah hal yang terindah dan cukup luar biasa, tapi ma Richie hanya bilang begini sama ina, ina kita pacaran yuk, aneh ngak sih ma, dia ngak ada ngucap kata-kata yang lain ma” ina mendekat kearah mama “terus kenapa ina menerima Richie” mama membelai rambutku “karena ina sayang sama Richie ma” aku menatap mama dengan kelembutan dan mama hanya tersenyum “kalau memang ina sayang sama Richie, ina harus bisa menerima semua yang ada pada Richie dan ngak boleh menolak kenyataan” mama memberi penjelasan samaku “udah ma, udah ina lakuin tapi sampai kapan ma, aku harus kayak gini” aku masih bersedih tapi aku ngak menunjukkan rasa kalau aku ingin menangis “ya udah, kamu jalani aja dulu terus kamu harus tetap kasi perhatian sama Richie dan kamu tunjukan ke Richie kalau kamu tuh wanita special buat dia, gimana sayang?” mama tersenyum lembut kearahku dan membelai rambutku.
Paginya
Masih dengan perasaan yang bercampur kecewa aku melakukan aktifitasku seperti biasa “gimana sayang, kamu udah merasa enakan” sapaan pertama mama dengan senyum yang merekah, papa yang mendengar mama menanyakan hal itu menatap mama menuntut jawaban “ngak ada apa-apa pa” jawab mama dengan senyuman, mama menyendokkan nasi goreng kearahku “kamu ngak apa-apa lagikan sayang” mama membelai rambutku dengan rasa sayang “ina ngak apa-apa kok mam, ina udah sedikit enakan, mungkin ina akan ikuti saran mama” aku tersenyum kearah mama, papa yang mendengar pembicaraan kami hanya tersenyum “ya baguslah sayang, kalau mama boleh nyaranin, ina harus lebih mendekatkan diri aja sama Richie kasih perhatian lebih banyak aja sama Richie” mama mengambilkan susu buat aku minum dipagi yang sebenarnya sangat indah “maksud mama ina harus sedikit menyodorkan diri gitu ma? Ntar malah Richie mengira ina kegatelan lagi, dan lagipula kan dia yang menyatakan cintanya sama ina, seharusnyakan dia yang harus ngasih perhatian sama ina” aku memasukkan nasi goreng buatan mama kemulutku dengan perasaan jengkel “ina…maksud mama bukan begitu sayang” mama mendekati aku setelah menyendokkan nasi buat papa “jadi maksud mama gimana donk” aku memberhentikan sejenak makanku “coba ina member sedikit perhatian sama Richie, ina coba mendekati Richie dan menanya kabar Richie, atau ngak Tanya gimana pelajarannya, atau gimana gitu?” aku mendapat pencerahan dari kata-kata nasehat mama, kali ini mama ada benarnya kenapa aku ngak mencoba “ok deh ma, ina akan usahain” akhirnya aku pun kembali bersemangat, aku menyudahi sarapan pagiku dan aku pun pamitan pada mama dan papa buat berangkat kesekolah.
Disekolah
Aku menghirup lega udara disekolahku, aku merasa bahwa hari ini cukup indah, rasanya hari ini sangat tepat kalau aku mengajak Richie buat bicara, dan ternyata aku merasa hari ini dunia memihak padaku dan memberi aku kesempatan, aku melihat Richie tepat berada didepanku, aku pun mendekatinya saat aku hendak mendekatinya ternyata Richie udah melihat kearahku tiba-tiba aja langkahku terhenti saat seorang cewe menghampiri Richie. “rich… gimana donk? Ntar pulang loe mau kan ngantar aku” cewe itu kelihatan manja didekat Richie, Richie yang awalnya sedari tadi melihat aku tetapi kini Richie membuang pandangannya dariku dan mengarahkannya kearah cewe yang ada didekatnya “hmm…liat entar ya” aku melihat Richie tersenyum kearah cewe itu, aku baru kali ini melihat senyuman Richie tetapi bukan diberikannya padaku tapi malah sama orang lain, aku pun kesal aku berlari menjauh dari hadapan Richie sambil menangis, aku berharap Richie bisa menyadari kesedihanku dan berusaha mengejar aku dan ternyata tidak seperti yang kuharapkan, harapanku tidak sama dengan kenyataan malah lebih menyedihkan, aku tak melihat respon Richie terhadapku, dia malah lebih asik berada didekat cewe itu tanpa mempedulikan aku.
Sesampainya dikelas, aku pun langsung melangkah berlari menuju bangkuku sambil menangis tanpa mempedulikan teman-temanku yang sedari tadi sudah berada didalam ruangan tidak terkecuali yui dan hera “ina…kamu kenapa?” hera melihat aku yang sedang menangis, yui yang sedari tadi berdiri jadi mengambil posisi duduk didekatku “her…aku kayaknya ngak pantas deh kalau jadian sama kak Richie” aku melihat hera dengan keadaan mataku yang cukup sembab “ina…kak Richiekan sayang sama ina makanya dia berani menyatakan cintanya sama ina” hera membelai lembut rambutku “lagipula kenapa ina ngomong gitu” yui menghapus airmataku dengan tissue, dengan cepat aku menggapai tangan yui mengambil tissue “tapi her, yui, kak Richie tuh ngak pernah bilang kalau dia sayang sama ina, dia Cuma ingin ina jadi pacarnya aja” aku semakin tambah sedih“ ina…semua orang itukan mengekspresikan rasa sayangnya berbeda-beda” hera memberikan senyuman padaku “tapi her, Richie tu dah keterlaluan memperlakukan kayak gini, kalian tau ngak tadi aku dah cukup semangat menhadapi hari ini buat bicara sama dia kenyatan kalian tau apa yang aku lihat” aku bertanya kearah yui dan hera sambil menangis ” udah donk jangan menangis, emang apa yang kamu lihat” hera menghapus airmataku “aku ngak mempedulikan yang aku lihat tapi aku mempedulikan saat aku merasa kecewa dia mau mengejar aku dan menjelaskan apa yang terjadi” aku menahan tangisku “ maksud ina?” hera dan yui semakin penasaran “ aku tadi lihat Richie sama cewe bermesraan didepan mataku, kalian tau Richie melihat aku tapi dia lebih mempedulikan cewe itu daripada aku dan kalian tau mungkin dia merasakan ada kekesalan ataupun kecewa samaku tapi apa...apa coba yang terjadi dia ngak ada ngejar aku dan ngak mau ngasi penjelasan atas kejadian yang tepat terlihat langsung oleh mataku dan satu lagi Richie ngak pernah ngasih senyuman indah samaku tapi tadi aku melihat dia tersenyum manis banget sama cewe itu” aku menguatkan suaraku sambil menangis “ ina… maksud kamu cewe sapa?” Tanya yui sambil menatapku “aku juga ngak tau yui, her, tapi cewe itu manja banget dengan  dia, dia ngak pernah gitu sama aku” aku mencoba menahan tangisku, sambil menghapus airmataku dengan tanganku aku menatap kedua temanku yang kayaknya merasa iba sama yang aku alami “gini aja ina, semua orang itukan memberikan ekspresi sayang sama seseorang kan berbeda-beda nih kenapa loe ngak ngasih yang berbeda pula sama Richie” yui tersenyum kearahku seakan-akan ada sesuatu dibalik senyumannya itu “maksud kamu?” aku dan hera melihat kearah yui secara berbarengan karena merasa penasaran sama kata-kata yui“ ya ampun segitunya kalian melihat cewe cantik kayak aku, ngak usah berlebihan gitu deh” yui membuat lelucon yang cukup garing“ udah deh bilang aja maksud loe apa sih” hera memelototkan matanya kearah yui “ya segitunya kalian serius banget,santai aja napa, ya udah gini loh maksud aku, gimana kalau ina memberi ekspresi sama Richie biar Richie mengeluarkan ekspresinya” yui mengatakan sesuatu yang makin membuat aku dan hera makin bingung, aku dan hera hanya menggelengkan kepala bahwa kami ngak paham dengan maksud perkataan yui“ yang jelas donk” hera mencibirkan bibirnya kearah yui “iya...iya...gini loh, kenapa kita ngak mencoba buat memanas-manasi perasaan Richie” yui tersenyum aneh menandakan bahwa rencananya ini bakal berhasil membuat Richie jadi berekspresi keaku “ gimana caranya?” aku sesaat melupakan tangisanku yang hampir mengering “ gimana kalau ina mendekati teman Richie, ya paling ngak ya saingan dari segala hal deh sama Richie termasuk kekerenan gitu” aku dan hera saling lihat-lihatan karena kami masih bingung tapi tiba-tiba aja hera member senyuman kearah yui pertanda dia udah paham maksud dari perkataan yui“ loe pahamkan” yui menanya hera, hera hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “maksud u membuat Richie cemburukan dan membuat Richie menganggap bahwa ina selingkuh gitukan” hera melihat kearah yui, yui hanya memainkan matanya kearah hera bertanda bahwa tebakannya benar sekarang aku pun udah sedikit paham maksud dari perkataan yui sedari tadi “ tapi teman-teman, apa rencana kalian ini ngak berbahaya, ini ngak mungkin dong dilakukan, ntar yang ada Richie marah benaran lagi sama aku” akupun kembali bersedih “ ya ampun ina, kalau Richie emang benar-benar ngak sayang sama kamu kenapa coba kamu mempertahani hubungan ini, lagi pula kalau Richie benar-benar sayang sama kamu dia bakal jadi cemburu dan inginkan kamu jelasin semuanya dan saat itu baru kamu menjelaskan yang terjadi dan aku yakin dia bakal ngerti kamu dan dia bakal makin sayang sama kamu deh” hera menepuk pundakku memberitau hal yang benar-benar penting buat aku dan aku pun menyadari bahwa benar apa yang dikatakan hera dan yui buat apa coba aku mempertahankan cintaku sama dia kalau kenyataannya dia ngak cinta sama aku “benar yang kalian bilang buat apa aku capek mempertahani status pacaran yang ngak jelas ini” aku mengangguk-anggukkan kepalaku tanda paham, aku pun tersenyum kearah kedua temanku “ tapi tunggu dulu jadi sapa cowo yang bisa mengimbangi Richie , yang bakal kita jadikan umpan buat mendapatkan ekspresi Richie” hera menatap yui sambil memikirkan cowo yang tepat “ya ampun…masa kalian pikir cowo keren hanya Richie doank, hello…masih ada kak willykan, gimana? ” yui tersenyum kegirangan berfikir bahwa rencananya akan berhasil, aku dan hera hanya membelalakkan mata dan terkejut banget “ gila kau, kak willy tukan cowo yang bisa dikatakan hampir sempurna, malah melebihi kesempurnaan Richie kale “ hera memukul kepala yui, ya langsung aja yui mengerang kesakitan “ sakit tau, masa kalian mau masang rencana setengah-setengah ya ampun ngak berbobot banget seharusnya kalau rencana udah ok maka umpan juga harus ok supaya target kena sasaran” lagi-lagi hera hendak memukul yui untungnya yui cepat menghindar “ kayak u mau perang aja” hera mencibirkan bibirnya kearah yui “kitakan sekarang emang mau perang non, mau memberantas kesakit hatian teman kita” yui menurun naikkan alis matanya “iya benar yang dibilang yui, sekarang kita sedang perang melawan Richie” hera membelalakan matanya kearahku. Akhirnya penyusunan rencana selesai kami tinggal menunggu waktu istirahat buat melancarkan rencana “ kamu siap malukan…” yui mengingatkan aku sama rencana kami “ maksudmu “ tanyaku berbisik “ ya mana tau aja kak willy ngak mau PDKTan sama mu” yui pun ikut berbisik, hera hanya melihat kami “ ok…beres aku siap nanggung resiko apapun yang bakal terjadi dan aku ngak akan menyalahkan kalian berdua tenang aja” aku membulatkan tanganku memberitau bahwa aku menyetujui semuanya, aku pun menarik nafas mengumpuli semangatku buat nanti.
Jam istirahat
Hmmm..selesai menyusun rencana kami langsung cepat menuju ruangan kelas kak willy dan itu berarti juga ruang kelasnya richie. Rasanya aku ingin membuang jauh-jauh rasa malu yang akan terjadi keaku hari ini juga. “jadi..ina, kamu udah siap” gila kata-kata semangat dari yui juga seperti mau kemedan juang aja. “berlebihan tau....” aku dan hera sama-sama memelototkan mata kami kearah yui, dan seketika itu pula yuui ketakutan melihat kami yang memelototkan mata dan jadinya dia ketawa ngak jelas deh. Kami pun berjalan menuju kelas willy, tiba-tiba aja kakiku berhenti seakan-akan tidak ingin melakukan hal terbodoh ini. “jangan bilang kau menyerah ditengah jalan gitu aja tanpa berperang melawan ekspresi ngak jelas dari richie. “bukannya gitu teman-teman, tapi jujur aja aku ngak yakin ini akan berhasil” dengan perasaan bercampur aduk aku memelas kearah temanku. “kalau kamu pesimis gimana kita bisa menang” hera tiba-tiba nunjukin ekspresi semangatnya “betul...” dengan semangat pula yui menjawab kata-kata hera. Aku pun menyemangati diriku sendiri karena ini juga demi kebaikan kelangsungan hubunganku dengan richie.
Akhirnya kami pun sampai keruang kelas kak willy, sejenak aku memperhatikan posisi dan isi ruangan <tapi tunggu dulu aku tak melihat sesosok cwok yang aku sayangi tapi tak pernah ada ekspresi, aku terus mencari tapi tetap tak kutemukan>. “siang kak willy” wah gila benar, aku ngak habis fikir apa yang bakal terjadi setelah ini. “hai juga...” dengan ramah willy memberi senyuman lembut pada kami, aku juga memperhatikan willy yang tampaknya juga lagi asyik memperhatikan aku, aku pun memberi senyumanku pada willy, setelah itu mataku tetap lagi menikmati buat mencari sesosok yang sangat aku inginkan tapi tetap tak kutemui. Tiba-tiba aja yui menyenggol lenganku, dengan spontan aku langsung membelalakkan mataku “ini kak, kenalin ini ina teman kami, dia ingin banget kenalan sama kak willy” sekali lagi aku memberanikan diriku buat melihat kearahnya ntah dari mana keberanian itu muncul “bukannya kamu ina pacarnya richiekan?” lagi-lagi aku membelalakkan mata kali ini bukan karena kata-kata ina tapi dari willy <gila benar dia tau namaku sampai-sampai dia tau aku pacarnya richie aku sendiri aja ngak yakin aku pacarnya> “eghm..” aku hanya memberi senyuman pada willy sambil melihat kearahnya. “bukan...bukan kak, ini ingin kenalan sama kakak dan kayaknya ina sama kak richie gak pernah jadian deh” kali ini baru aku lebih terkejut, sebuah pernyataan yang tak tanggung-tanggung keluar dari mulut yui, dan saat itu pula dengan cukup cepat willy melihat kearahku yang tampak aneh “jadi...?” willy makin lekat menatap wajahku sepertinya dia cukup penasaran sama kata-kata yui, saat itu aku kepikiran sama richie aku berharap richie seperti kak willy yang menatap aku dengan lekat, hera tiba-tiba menyenggol tanganku seperti ingin melihat reaksi yang akan aku berikan, ntah datang dari mana sebuah keberanian membawaku pada sebuah pengakuan yang benar-benar membuat suasana jadi aneh “hmm...kak, ina mau mengenal kakak lebih dekat” aku melihat kearah willy ingin mendengar jawabannya “maksudmu...” aduh hanya itu yang keluar dari bibirnya yang imut, aku pun jadi salah tingkah, aku pun menghela nafasku cukup panjang buat ngumpuli kekuatanku buat menjalankan rencana ini sampai berhasil. “ina mau kenal kakak lebih dekat, ina ingin PDKTan sama kakak, jadi kakak mau kan?” hera dan yui menetap aku secara bersamaan tanda ngak percaya ma pernyataanku “maaf aku ngak mau main api sama richie” willy mencoba menjauh dari hadapan kami, tapi sebelum pergi “kenapa kak, kan aku udah dibilang aku dan richie ngak ada hubungan apa-apa lagi” pernyataan yang ngak pernah kusangka bakal keluar dari mulutku, jadi menyita perhatian yui dan hera, sesaat itu pula willy pun kaget mendengarnya dan dia membalikkan wajahnya, dan tau saat aku membuat pernyataan itu ternyata sedari tadi richie udah ada dipintu kelas dan aku cukup menyadarinya sekalipun aku tak melihatnya secara langsung, jantungku cepat banget berdetaknya sampai tak terukur mili detik, jantungku seakan hendak copot “ina...richie” yui memegang pundakku memberi tau bahwa richie ada dipintu, tanpa dikasitau oleh yui aku udah tau duluan, willy yang melihat kejadian ini pun ngak tau apa yang ingin diperbuatnya lagi, willy pun hanya bisa terdiam. Sejenak suasana saat itu sangat hening, aku sangat tau sebenarnya richie mau masuk tapi dia hanya menghentikan langkahnya didepan pintu dan dia pun seperti menikmati adengan yang terjadi. Aku dan richie hanya ada dalam kebisuan semata tapi suasana aku buat kembali normal “jadi kak gimana, kakak maukan PDKTan sama ina” keberanian yang benar-benar norak sampai diperhatikan sama seisi kelas itu, semua tampak tegang mendengar jawaban dari willy, baik hera maupun yui masih tetap belum percaya sama kejadian yang dilihat dan didengar mereka dan richie...masih asik didepan pintu buat menyaksikan kesakit hatiannya aku “aku ngak bisa ina..., aku sahabatnya richie dan aku masih menghargai perasaan richie” aku terkejut bercampur malu mendengar jawaban kak willy tapi aku mengupayakan supaya hatiku tetap tenang dan tidak salah tingkah “memangnya aku salah ya suka sama kakak, aku salah buat nyatain perasaanku, aku salah buat ninggalin orang yang ngak pernah menganggap aku seorang yang penting dihatinya, aku salah buat melupakan orang yang ngak pernah peduli samaku, salah...kak...? tapi rasaku ngak deh, kalau kakak tadi ngejawab buat nolak aku karena kakak ngak suka sama aku mungkin aku bisa terima tapi kenapa harus bawa-bawa perasaannya, memangnya dia pernah menghargai perasaan seseorang, terus aku salah buat ngasih perhatian ma orang yang mungkin bisa ngasih aku perhatian yang sama, itu semua salah kak..?” aku sedikit memperlambat kata-kataku buat mempertegasnya, aku ngak tau apa yang difikirkan sama richie dilorong pintu, aku ngak berani buat memandang orang-orang yang ada disekelilingku, aku melihat willy berjalan menghampiriku “mungkin kau lagi marahan sama richie, jadi kau ingin membuat aku sebagai pelampiasan aja kali, itu ada richie, pergilah sana” willy tersenyum kearahku dia benar-benar dewasa “iya aku memang lagi benci sama dia, makanya aku ingin melupakan dia dan aku memutuskan orang yang bisa bantu aku buat melupakannya adalah kakak tapi ternyata kakak membuat aku kecewa atas jawaban kakak yang egois seakan menganggap apa yang aku katakan hanyalah karena sebuah pelarian” aku pun menangis dan aku pun berlari meninggalkan willy yang saat itu hanya mampu tercengang, saat hendak keluar aku memberhentikan langkahku buat nunggu respon dari richie dan ternyata richie hanya menunduk dengan ekspresi datarnya, dia nga berani menatap aku. Aku pun berlari tanpa mempedulikan richie yang aku pikir ngak akan pernah bisa mengerti aku. “ina...tunggu...” masih jelas terdengar olehku suara hera dan yui yang memanggilku, kali ini aku ngak akan berharap pada richie buat mengejar aku.
Aku pun berlari menuju kelas masih dengan isakan tangisku, aku menangis bukan malu karena kak willy ngak menerima aku tapi aku menangis karena richie. Didalam ruangan kelas aku masih menangis dan masih ngak bisa berhenti, hera dan yui akhirnya pun dapat mengejar aku dan menghampiri aku “ina tadi kenapa jadi ngomong kayak gitu, tadikan ada richie” hera mendekati aku “her benar yang kalian bilang, sekarang ina udah tau” aku pun beranikan diri buat menatap kedua temanku “maksud ina?” yui yang ngak mengerti akan kata-kataku hanya melihat aku dengan polosnya “benar yang kalian bilang, buat apa aku mempertahankan pacaran ngak sehat seperti yang terjadi antara aku dan richie,kalian lihatkan, richie ngak ada respon sedikit pun sama aku, lihat dia tetap aja ngak ngerti yang terjadi sama aku....” aku menjerit sekencang mungkin buat melegakan emosiku, hera dan yui mengelus lembut rambutku “ina...jangan sedih lagi ya” hera menghapus air mataku dengan sapu tangannya “lagi pula yang tadi ina lakuin itu udah benar lagi, soalnyakan itu ina lakuin buat cari perhatian dari richie, bukan hal yang lain, jadi jangan sedih lagi ya...” hera dan yui menyemangati aku “tapi...jadi gimana ya antara kak willy dan richie” tiba-tiba aja aku jadi kepikiran sama kedua orang itu. “iya...ya apa jadinya mereka berdua” hera dan yui saling tatap-tatapan.
Sebenarnya aku masih penasaran sama apa yang terjadi sama willy dan richie dan hingga akhirnya aku menemukan jawabannya saat pulang sekolah aku melihat willy dan richie saling tertawa, aku sedikit lega bercampur kecewa, saat aku, yui dan hera berjalan hendak pulang tanpa aku sadari aku mendengar richie berbisik pada willy “sana hampiri dia...” aku terkejut mendengar kata-kata richie, willy hanya mampu tersenyum “seharusnya kamu yang dekati dia, sana minta maaf kau, masa jadi cowok ngak pernah respek sama pacar sendiri” aku juga masih mendengar kata-kata willy yang benar-benar dewasa dan itu sangat berbeda dengan richie. Kami masih asyik berjalan tanpa mengurangi kecepatan kami. Tapi aku tetap ngak merasakan richie peduli sama aku, hingga sebuah adegan membuat aku makin membuat kecewa aku melihat richie didekati oleh seorang cewek “ hai...rich...” sapaan yang cukup mesra dari cewek itu pada richie dan itu membuat aku memberhentikan langkahku, aku ngak tahu apa yang dirasakan richie saat itu tapi yang jelas aku makin kecewa pada richie. “richie...pulang sendiri kan” aku masih pada posisi berdiriku, hera dan yui menatap aku dan aku sangat yakin mereka menkhawatirkan aku “kenapa chinta...?” richie memanggil cewek itu dengan sebutan cinta, awalnya aku sangat kecewa hingga temanku mengatakan bahwa cewek itu namanya adalah cinta “richie...chinta nebeng donk” cewe yang dipanggil dengan sebutan cinta itu sangat mesra sama richie sedangkan richie hanya senyum-senyum “maaf ya chinta, richie pulang sama pacarnya” willy tiba-tiba berlari kearahku dan menarik tanganku “ayo...” aku sangat ingin mengucapkan rasa terima kasih sebesarnya pada kak willy, hera dan yui tampak bingung melihat kejadian yang terjadi hingga mereka pun mengikuti arah jalanku bersama willy “ini pacar richie yang pulang sama richie” willy mengenalkan aku pada cewek itu “masa sih wil, iya ya richie dia pacarmu” chinta masih memegang lengan richie, aku pun hanya mamppu memperhatikannya dan yang paling membuat aku kesal richie hanya terdiam “nah lihat sendirikan dia ngak cemburu dan richie ngak ada bilang apa-apa tuh” mendengar perkataan cewek itu dengan repleks aku tersenyum dan meninggalkan tempat itu sambil mengoceh ngak jelas “kenapa coba aku harus ditarik-tarik sama kak willy, wah... jadi gila deh” richie melihat aku dengan bingung dan aku juga yakin banget kalau kak willy saat itu merasa bersalah “kau benar-benar gila richie” aku ngak tau apa yang dilakukan richie lagi tapi yang jelas kak willy mengejar aku “ina...ina... maafi kakak ya” kak willy mintamaaf sama aku, hera dan yui hanya menepuk-nepuk pundakku buat memberiku sembangat “kakak ngak salah lagi, makasih ya kak” saat itu ntah kenapa kakiku seakan ingin berhenti dan ntah apa yang masuk dalam diriku aku jadi merasa sangat lelah dan nafasku...ngak...mana nafasku...aku pingsan, aku ngak mengetahui apa yang terjadi setelah itu.
Aku pun terbangun dan tersadar sekarang posisiku udah ada didalam kamar, aku mencoba bangkit dan berjalan menuju pintu hingga akhirnya aku mendapati hera, yui dan tunggu dulu kenapa Cuma mereka mana kak willy dan richie?...aku hanya mampu berjalan sebentar hingga aku hampir terjatuh dan mama memegang aku dan yui serta hera menghampiriku “sapa yang mengantar aku kemari” tanyaku pada hera dan yui “hmggggg, kak...kak...kak richie, ina” jawaban hera membuat aku terkejut “kenapa bisa? Bukannya dia dah nngak peduli sama aku” aku dirangkul mama keatas tempat tidurku “tadi kak willy yang menyuruh kak richie buat ngantar kamu pulang” oooo jadi karena kak willy, fikirku seketika itu pula “makasi ya teman-teman” aku memberi senyumku pada mereka “besok istirahat aja dulu, ina ngak usah sekolah kan masih sakit ya” yui menatap aku sambil tersenyum “ngak apa-apa lagi kok, sekarang uda baikan” aku bersandar disudut sisi tempat tidurku.
Malam ini aku ngak bisa tertidur aku masih terjaga dalam lamunanku memikirkan hal yang terjadi pada diriku.
Akhirnya bukan pagi yang aku tunggu melainkan pagi itu sendiri yang menunggu aku, aku menatap pagi ini seakan aku marah dan aku tidak mempedulikannya lagi. “pagi sayang...” mama seperti ingin memberi senyum yang hangat padaku tapi tetap saja aku seakan ngak peduli “iya mama...” aku pun memberi senyum pada mama. Aku pun duduk dimeja makan bersama papa.
Aku pun cukup guntai berjalan menuju kelasku tanpa aku melihat lagi orang-orang disekitarku. “pagi ina” sapa hera padaku dengan senyuman lagi-lagi aku tak menghiraukannya. Yui juga seperti itu. Aku tak berani berhadapan dengan semuanya, jadi aku pun memutuskan untuk tidak berani menatap sekelilingku. “ina...udah sembuhkan” tanya hera sekali lagi buat menghiraukan aku. “ina baik kok her...” aku pun memberanikan diriku memberi senyum yang cukup sedikit pada teman-temanku. Aku pun duduk dibangkuku dan hanya terdiam. “ hmmm...sob, u baek-baek ajakan” yui memandangku dengan kekhawatiran yang cukkup besar dan itu sangat bisa kubaca ditatapan matanya. “makasih ya teman-teman kalian udah care sama aku” aku pun akhirnya memberanikan diri melawan kesedihanku dengan memberi senyuman “ayo bersemangat...” dengan serentak yui dan hera menyemangati aku “semangat...” aku pun memutuskan untuk bersemangat, aku ngak mau nunjukin kesedihanku dihadapan richie karena aku tau hal itu akan membuat richie sangat senang karena mampu membuat kesedihan pada hidupku.
Keluar main-main, dulu aku sangat menyukai ini tapi tidak untuk setelah aku mengenal richie. “ina...kita kantin yuk...” rengek yui kearahku dengan wajahnya yang saat itu membuat aku tak mampu menahan tawaku “ya udah ayo” aku pun memberi senyumanku pada yui dan hera, aku sangat bersyukur karena diberikan teman-teman sebaik mereka. Kami bertiga pun berjalan keluar dan tertawa bersama, aku tak melihat richie dipelataran kelasnya, sekalipun aku benci sama richie itu bukan berarti aku ngak peduli sama dia, karena bagiku richie adalah hal yang terindah buatku sekalipun nantinya dan dia bakal ngak lagi menganggap ku apa-apa.
Saat kami sampai dikantin aku melihat richie, kak willy dan teman-temannya tapi tunggu dulu kenapa ada cwe yang bernama cinta itu lagi. Aku tak mampu menatap mereka tapi ntah kenapa saat itu perasaanku mengatakan bahwa richie memperhatikanku. “ina...” jerit kak willy kearahku, yui dan hera cukup terkejut mendengar jeritan kak willy terlebih aku, tapi saat itu aku tak melihat richie melihat atau bahkan melirik aku. Aku berusaha tegar melihat perlakuan richie padaku “sini...gabung bareng kami” kak willy memanggil kami, ngak tau kenapa kaki ku melangkah tanpa perintah dariku, dia seakan ingin berontak pada richie. Yui dan hera yang melihat aku hanya mengikuti langkah kakiku. Aku memberanikan diri untuk duduk didekat kak willy, lagi-lagi yui dan hera cukup heran dan tau apa reaksi kak willy dia pun cukup heran melihat aku yang seakan jadi aneh dan ngak tau dengan richie karena bagiku richie tetaplah cwo yang nga pernah punya ekspresi “hai kak willy, ada apa nih manggil kami buat gabung, mau mentraktir makan nih” tanyaku spontan membuat teman-temanku dan teman-teman richie terperangah mendengar perkataanku. Aku melihat ekspresi yui dan hera yang saling tatap-tatapan. “richie...haus....ambilin teh botol donk” cwe yang sedang sok mesra dengan richie merengek ngak jelas kearah richie kali ini aku hanya melihati richie, ingin melihat apa tindakan richie, yui dan hera serta kak willy tampak tegang menyaksikan adegan selanjutnya yang bakal terjadi untuk saat itu. Dan ternyata richie bangkit dan berjalan untuk mengambil permintaan cwe itu. Kali ini mulutku yang berontak, aku memberanikan diri buat menyikut lengan kak willy “ akh... kak willy ngak seru banget masa aku ma teman-temnku dipanggil kemari bukan buat ditraktir makan melainkan ditraktir menonton adegan kayak gini, akh kakak ngak seru” aku melayangkan tanganku kearah wajah kak willy tapi bukan untuk menamparnya tapi untuk mengatakan suatu hal yang ngak seru. Saat itu pula baik kak willy maupun teman-temanku dan teman-teman yang lain yang ada disana terbengong melihat aku yang mereka pikir bahwa saat itu yang ada bersama mereka bukanlah ina yang mereka kenal. Kali ini baru aku benar-benar melihat ekspresi richie “ maksud loe apa?” tanya cwe yang bernama cinta itu “ups maaf ya bukan maksudku” aku hanya memberikan senyuman kecutku padanya setelah itu aku melirik kearah richie “hei...jangan bengong tau...yok” aku menarik tangan yui dan hera untuk beranjak dari tempat duduk kami “maaf ya kak willy kami duluan kayaknya kakak ngak mau mentraktir kami makan ya” aku pun sedikit memberi leluconku padanya agar dia tersadar dari kebingungannya melihatku. Dia pun hanya melihat aku dan memberikan senyumannya padaku “da....” aku pun melambaikan tanganku kearah mereka dan saat itu aku tepat disamping richie tanpa ada yang tau aku membisikkan sesuatu padanya ‘aku tunggu ditempat awal kita ketemu’ aku pun memberi senyumanku pada semua orang yang ada didekat richie termasuk cwe itu.
Selesai kami beristirahat kami pun memasuki kelas dalam hatiku aku memberi selamat pada diriku bahwa aku telah berhasil menjadikan richie saat itu termangun. “wah...tadi kamu hebat banget loh ina, selamat ya” yui memberi selamat padaku disusul oleh hera “gila sob, tadi loe emang benar-benar keren abis, top bgt deh” hera mengacungkan kedua ibu jarinya tanda bahwa aku udah berhasil, aku pun hanya seenyum-seenyum tak jelas karena sebenarnya dalam hatiku aku cukup sedih karena dari kejadian itu richie ngak memberi respon ataupun tanggapan padaku. Dan saat ini jantungku sangat dipompa besar-besaran karena nantinya aku harus berhadapan dengan richie sehabis pulang sekolah nanti.
Akhirnya saat yang paling mendebarkan itu harus aku jalani, kami pun akhirnya pulang sekolah, saat disekolah dan melewati tempat parkir aku masih melihat bahkan masih mendengar pembicaraan richie dan teman-temannya. Aku dan teman-temanku hanya berjalan tanpa mempedulikan mereka “richie...antar aku pulang ya “ rengek cwe yang ngebosenin itu “ maaf ya chinta aku ngak bisa ngantar kamu pulang soalnya aku udah ada janji nih” spontan aku menghentikan langkah kakiku, aku sangat ingin mendengar pembicaraan itu lebih lanjut “emangnya ada janji sama sapa sih richie” tanya cwe itu makin buat aku gemes “ada deh” richie hanya mengatakan itu saja dan aku cukup kecewa aku pikir richie akan berubah setelah kejadian saat aku pingsan ternyata ngak sama sekali. Aku hanya senyum-senyum sambil melanjutkan langkah kakiku.
Aku pun berjalan sendiri kearah tempat aku dan richie janjian ups maksudnya tempat aku mengajak richie buat jumpaan.
Aku pun berjalan tanpa henti mencari tempat yang lebih enakan menanti richie. Aku mencari-cari apakah richie udah datang atau belum dan ternyata richie ngak mengecewakan aku, dia datang. Aku tak henti melihat arah richie berjalan mendekati aku. “hai...dah lama menunggu” aku termangu saat richie menyapaku untuk pertama kali “ngak kok baru aja” aku hanya mampu menatapnya sesaat   “ ada apa?” tanyanya seakan ngak pernah terjadi masalah antara kami berdua “kakak nanya ada apa?” aku balik bertanya padanya dan kali ini aku memberanikan diri untuk menatapnya dan aku sangat tau dia pasti hanya mampu terdiam dan menunduk tapi...tidak untuk saat ini richie melihat aku dan dia pun sekarang duduk disampingku “maafkan aku karena aku udah membuat ina kecewa” aku ngak menyangka ternyata richie mengeluarkan yang cukup asing ditelingaku yup mendengar dia mengatakan hal itu. “buat apa kakak mintamaaf sama ina, kakak kan ngak pernah buat salah sama ina” aku pun mengalihkan pandanganku setelah dia memberanikan diri menatapku dengan cukup serius “aku mintamaaf karena aku udah membuat ina merasa tersakiti oleh aku” kali ini richie pun mengalihkan pandangannya. Aku hanya mampu terdiam dan sesaat setelah itu “jadi apa mau kakak” tanyaku lagi pada richie yang saat itu hanya mampu berdiam saja. Aku pun menunggu richie untuk menjawab pertanyaanku dan kenyataannya tanpa aku harus mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya akhirnya richie menatap aku dan hendak mengatakan sesuatu “aku bukanlah yang terbaik buatmu” aku terkejut mendengar perkataan kak richie dan aku saat itu ngak tahan membendung seuntaian mutiara yang hendak mengalir itu dan kenyataannya harus jatuh juga dan richie melihatnya, aku udah ngak mampu menahan ego maluku lagi saat itu pada richie karena aku memang benar-benar sedih. Aku ngak mampu mau mengatakan apa lagi, aku hanya terdiam dan menatap keatas awan untuk mengeringkan air mataku. “aku ngak bisa mengatakan apa-apa lagi kak” aku pun hanya menghapus air mataku, richie saat itu ngak berani menatapku, aku pun tak ingin mendengar alasan richie memutuskanku sekalipun pacaran yang kami lewati bukanlah pacaran yang bisa dikatakan bahwa itu adalah pacaran. Hmphff...aku pun menarik dan membuang nafasku buat menenangkan diriku, dan saat itu aku bangkit dari tempat dudukku dan menatap dia serta memberikan senyum terburukku padanya “makasih atas pernyataan kakak saat itu padaku” aku meninggalkan richie yang saat itu aku udah ngak tau apa yang terjadi padanya tapi sekalipun Richie mengatakan dia ngak pantas jadi pacarku tapi diantara kami belum ada kata-kata putus.
Perasaanku sangat kacau dan ngak mampu buat melakukan apa-apa lagi, mama dan papa yang melihat keadaanku saat itu ngak mampu berbuat apa. Aku memecahkan dan mengoyak-ngoyak fotoku bersama richie, aku menghapus fotoku yang ada dilaptop dan handphoneku dan aku juga menghapus nomornya “akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”teriakku sekencang mungkin mama dan papa yang sedari tadi kkawatir melihat aku menggedor-gedor pintu kamar tapi tetap aja aku tak menghiraukan hingga akhirnya mama dan papa menyuruh yui dan hera bermalam dirumahku buat menemani aku “akhhhhhhhhhhhhhhhhhh, aku benci kamu richie, aku benci kamu, kamu egois.......” aku berteriak ngak jelas didalam kamar “ina buka pintunya sayang...” mama mengetuk-ngetuk kembali pintu kamarku dan disusul oleh yui dan hera ”ina buka pintunya donk” yui dan hera ngak henti buat memanggil aku, dan aku tetap ngak mempedulikan mereka “ok...kalau itu memang maumu aku bisa kok melupakanmu, kenapa ngak dari dulu aja kau ngak menganggap aku biar aku ngak kayak gini.....akhhhhhhhh richie......” aku menangis sejadi-jadinya aku udah ngak sanggup lagi, aku pun berjalan kearah pintu buat membukakan pintu “mam..hera...yui...pap...ina ngak apa-apa kok” saat itu aku sangat tau mama benar-benar khawatir banget sama keadaanku mama langsung memeluk aku sambil menangis, yui dan hera yang melihat keadaanku ikut sedih “kenapa bodoh banget sih ina, kan laki-laki bukan hanya kak richie, lagi pula loe sih pacaran sama orang yang ngak punya ekspresi” aku tau yui saat itu bukan buat memarahi aku melainkan ingin memberikan lelucon supaya aku tersenyum dan aku pun menyambut senyumannya dan saat itu aku memeluk yui dan hera “ aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena udah dikirimkan mama,papa dan teman-teman yang sangat menyayangiku” aku ngak mampu menahan tangisku.
Setelah itu akhirnya aku pun tertidur dengan lelapnya disampingku sudah ada yui dan hera yang menemaniku, aku tak takut untuk menghadapi pagi.
Akhirnya pagi ini pun datang juga, pagi ini aku cepat bangun, aku membangunkan yui dan hera dengan bersemangat, saat aku tadi bangun aku sudah mengatakan pada diriku bahwa aku tidak boleh menghadapi pagi ini dengan tangis melainkan harus dengan senyuman. “woi...bangun tau para pemalas...” jeritku kearah mereka dan betul saja mereka sangat cepat mengeluarkan omelan yang sangat panjamg “akh...rese loe, hari minggu nih tau, ngebanguni ngak usah sampe gitu kale, pake mikrofon aja sekalian” mereka pun tertidur kembali setelah asik mengeluarkan kata-kata kejengkelan mereka “iya...iya maaf...tapi kayaknya kalian berdua harus bangun deh, secara ini kan hari minggu ngak pada mau shopping nih” aku sangat tau hal yang paling bisa membuat mereka pada bangun “shopping...” dengan cepat mereka mengusap-usapkan mata mereka dan bangkit dari tempat tidur “ha...ha...” aku pun tertawa, akhirnya pagi ini aku mampu buat tertawa dan saat itu pula mama sudah ada dibelakangku “ikh..mama ngagetin aja” aku terlonjak dari tempat aku berdiri setelah melihat mama dibelakangku “kamu sih ketawanya asik banget” tanya mama dengan senyuman khas mama “he...he...iya nih ma...masa mereka ngak mau bangun dan terus setelah aku bilang bakal shopping eh mereka bangunnya jadi cepat banget” aku menunjuk-nunjuk kearah mereka, yui dan hera hanya senyum-senyum malu, tiba-tiba mama mengejutkan aku dengan pertanyaan mama ”ina udah enakan bukan, ina udah ngak kepikiran sama richie lagikan” sejenak aku terdiam membuat suasana cukup tegang, baik yui, hera maupun mama menanti jawabanku “hmmmm” cukup lama aku menjawab membuat mama merasa bersalah “maaf ya sayang mama membuat mu teringat sama dia” mama membelai rambutku, aku melirik kearah yui dan hera lalu memperhatikan mama dengan lekatnya sambil tertawa “ha...ha...ngak lagi mama buat apa ina coba memikirkan orang yang ngak sayang sama ina” aku merangkul mama.
Hmmmm pagi yang benar-benar istimewa banget buatku karena hari ini pula aku resmi ngak akan memikirkan richie walau aku ngak tau apakah aku udah yakin bisa melupakan dia. Aku, yui dan hera pun pergi bertiga tanpa ditemani mama buat kemall, ya biasalah buat shopping (weekend gitu deh), kami pun melihat suasana mall yang emang benar-benar sejuk banget, tiba-tiba mataku tertuju pada sekumpulan para cwo “ina itukan kak willy” aku memperhatikan kearah mereka, hingga salah seorang dari mereka menyadari keberadaanku dan menyikut lengan kak willy tapi tunggu dulu kenapa ada richie disitu “ina...” teriak kak willy memanggil aku dan dengan cepat dia berlari kearah kami dan entah apa yang sedang dipikirkan kak willy, dia memegang tanganku dan menarik aku, sekarang aku tepat berada disamping richie, yui dan hera tampaknya khawatir sama keadaanku hingga aku membisikkan sesuatu pada mereka “tenang aja ngak usah takut aku bakal histeris deh” aku memberi senyuman sambil tertawa kearah mereka. Kayaknya ngak ada yang tau bahwa aku dan richie udah putus “richie digandenglah tangan pacarnya” teman-teman richie pada maksa richie buat menggandeng tanganku, ntah apa saat itu yang sedang dipikirkan richie, dia memegang tanganku, dan itu adalah hal yang benar-benar aneh secara aku dan dia sudahlah putus, yui dan hera yang melihat kejadian itu terpelongo tanda kekagetan mereka melihat richie. Aku juga bingung ntah apa yang menyihir aku saat itu tapi perasaanku sangat lah senang aku merasa seperti menemukan hal yang baru pada richie, hingga saat lagi asik-asiknya kami suara seorang cwe yang cukup memekakkan telingaku memanggil richie tapi aku heran karena richie malah menggenggam erat tanganku “richie...” sesaat setelah cwe itu memanggil richie dia melihat kearah aku dengan sinis dan mencoba melepaskan genggaman richie dari tanganku dan betul saja tangan kami saling lepas. Aku yakin  richie ngak sanggup lama dapat memegang aku dengan seerat itu, saat itu pula aku merasa bahwa aku ingin kembali bersama richie tapi dengan sifat richie yang lebih baik seperti yang baru saja terjadi. Lalu tanpa aku sadari yui menarik tangan kak willy “kak...tau ngak sih richie dan ina tuh dah putus dan tau sapa yang mutusi, richie sendiri kak” yui membisikkan sesuatu yang tak kudengar tapi aku sangat jelas melihat wajah kak willy yang saat itu berubah menjadi merasa bersalah, lalu kak willy menarik tangan richie dari genggaman tangan cwe yang dipanggil chinta itu “richie kenapa kamu ngak bilang kalau kau dan ina udah ngak ada apa-apa lagi dan lagi pula tadi kenapa kau memegang tangan ina” aku melihat kemarahan pada wajah kak willy dan saat itu aku melihat richie yang hanya mampu terdiam sebenarnya aku ingin berlari pada mereka dan walaupun aku ngak tau apa yang mereka ceritakan, aku ingin sekali mengatakan pada mereka bahwa richie tidaklah bersalah.
Lalu sesaat itu richie berjalan kearah aku dan memandangku sejenak hingga cwe yang bernama chinta itu mengganggu tatapan richie “richie ayo jalan-jalan donk” saat cwe itu menarik tangan richie, richie masih melihat aku dan kali ini richie melihat tanganku digandeng sama kak willy “ayo ina” kak willy menarik aku, aku ngak sanggup buat berlalu dari richie sangat jelas terlihat olehku bahwa richie pun seperti itu. Hingga akhirnya aku dan richie memang benar-benar berpisah, saat itu aku ingin menangis “ina kenapa?” tanya hera kepadaku dan saat itu yui dan kak willy secara bersamaan melihat aku “kemasukan debu nih” dan aku sangat tau itu adalah jawaban yang sangat konyol “yui..hera boleh ngak kakak minjam ina buat jalan berdua” willy menggenggam erat tanganku, yui dan hera hanya menganggukkan kepala tanda setuju dan dengan cepat meninggalkan kami hanya berdua saja. Lalu kak willy menarik tanganku dengan lembut “kita bisa bicara enaknya dimana ya” tanya kak willy dengan lembutnya, aku ngak menyangka kak willy begitu lembutnya padaku andai saja richie seperti itu. “terserah kakak aja” aku memberikan senyum simpulku padanya “ya udah kita kewarung candle aja ya” kak willy meminta persetujuanku hingga akhirnya kami berjalan kearah tempat yang dimaksud setelah aku menganggukkan kepalaku tanda setuju.
Sesampainya diwarung candle kak willy pun mencari tempat yang cukup pojok dan yang jelas cukup nyaman, ntah apa yang terjadi pada kak willy setelah pesanan kami diantarkan kak willy memegang tanganku “aku ngak tau kenapa kau dan richie putus tapi satu hal yang cukup jelas buat perasaanku sekalipun aku cukup sedih melihat kalian berpisah tapi aku ngak tau hal buruk apa yang sedang aku pikirkan tapi aku juga merasa senang karena kau putus dengan richie” sesaat kak willy memutuskan kata-katanya dan aku cukup terkejut mendengar pernyataan kak willy, aku hanya menaikkan pundakku (membuat suatu pesan tanda tak mengerti dengan menggunakan bagian tubuhku) bahwa aku ingin mendengar lanjutan kata-kata kak willy “aku suka sama ina bukan deh aku sayang sama ina, aku ingin ina mau menerima aku sebagai pengganti richie dihati ina walaupun hanya sedikit tempat yang kudapat dibanding richie” pernyataan kak willy membuat aku benar-benar syock karena aku ngak percaya bahwa kak willy bisa suka sama aku. Cukup lama aku ngak merespon kata-kata kak willy hingga akhirnya kak willy pun menyadarkan aku dari lamunanku “kenapa kau masih belum bisa melupakan richie ya” tanya kak willy sambil menatap aku yang tertunduk dihadapan minuman yang telah kupesan. Aku ngak tau apa yang harus kujawab pada kak willy karena aku sendiri pun ngak tau apa yang  aku rasakan saat ini. Ntah sihir apa yang sudah memantrai aku tapi yang jelas dengan ceplas ceplos tanpa aku pikirkan aku menjawab pernyataan kak willy “iya aku mau” hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Saat itu aku melihat senyuman yang tulus yang diberi kak willy padaku, aku jadi selalu kepikiran sama richie karena kejadian yang baru aja terjadi.
Aku dan kak willy jadi jalan berdua hingga yui dan hera mengagetkan kami mereka melihat kak willy menggandeng tanganku “hayo...ada gosip apa nih” tanya yui sambil senyum-senyum, hera pun ikut tertawa melihat aku dan kak willy yang saat itu pipi kami merona sangat merah “hmm aku sama ina udah jadian” kak willy dengan tersipu malu mengatakan itu pada teman-temanku. Aku ngak terlalu memusingkan hal ini sekarang yang masih melekat dalam kepalaku adalah richie “woi...loe kok melamun aja” lagi-lagi simiss repot membuyarkan lamunanku, aku ngak berani buat bicara aku takut nanti aku keceplosan memanggil nama richie dan aku tau itu akan membuat willy merasa terlukai, hingga kuputuskan aku hanya memberikan senyum kecilku saja sama mereka “ina pulang yok dah kelar nih” hera pun mengajak aku buat pulang “akh loe kayak ngak ngerti mereka aja” yui memberikan lelucon yang garing buatku sedangkan aku hanya senyum-senyum saja “gimana sayang kamu mau pulang sekarang biar aku yang antar” tanya kak willy kearah ku, aku baru kali ini mendengar kata sayang karena selama aku dan richie pacaran beberapa hari lalu dia ngak pernah bilang kata itu keaku “terserah kakak aja deh” aku tersenyum kearah kak willy lalu kak willy mengeryitkan keningnya “kenapa manggil aku kakak, emangnya kamu ngak bisa panggil sayang atau namaku aja gitu” willy masih menggenggam tanganku “iya aku minta maaf ya” aku menatap kak willy sambil memberi senyumanku padanya “ya udah ngak apa-apa, terus kamu mau aku antar pulang atau ngak,” aku melihat kearah yui dan hera buat meminta pendapat “ya udah gini aja kak, kalian jalan-jalan aja dulu, kami aja yang duluan balik ntar kami bilang deh sama mamanya ina” yui menaikturunkan alisnya pada hera dan aku sangat tau maksudnya itu dan benar tebakanku mereka pun pergi dengan cepat. “hmmm...jadi sekarang kita kemana nih sayang” tanya willy kepadaku dan dengan sedikit keraguan aku pun memberanikan diri buat memanggil dia dengan nama “hmmm gimana kalau kita main timezone aja willy” saat itu senyum willy terpampang diwajahnya dengan sangat lepasnya “makasih ya” tiba-tiba aja willy mencium keningku dan kali ini senyumku yang paling indah kuberikan pada willy, aku ngak pernah merasakan hal seperti ini saat bersama richie, tunggu dulu kenapa sepanjang jalan aku mengingat richie terus padahal ngak ada yang tau apa richie mengingat aku saat itu senyumku memudar “kenapa sayang” tanya willy kearahku “kamu marah ya aku mencium keningmu” tanya willy kembali kearahku membuat aku cukup terkaget “ngak kok...” aku tersenyum kearah dia. Akhirnya kami sampai juga ditimezone. Aku merasakan hal yang cukup berbeda saat bersama willy dan ini ngak pernah aku rasakan bersama richie tapi aku hanya merasa fun aja bersama willy aku ngak merasakan jantungku berdetak dengan kencang. Lagi asiknya aku dan willy bermain ditimezone berdua tiba-tiba willy mengagetkan aku dan mengatakan padaku “liat itu richie” dengan cepat aku mengalihkan pandanganku kearah willy menunjuk, ada sedikit senyum yang merekah dibibirku. “aku panggil aja ya biar gabung sama kita, gimana sayang” tanya willy kearahku dan aku sangat tau perasaanku pasti aku merasa senang banget karena udah pasti aku jadi bisa melihat richie, tapi tiba-tiba keningku berkerut aku melihat chinta ada disamping richie dan itu sangat membuat aku kesal. “richie...” panggil willy dengan suaranya yang cukup kuat dan itu menyita perhatian richie dan chinta dan sesaat itu pula chinta melambaikan tangannya kearah willy dan richie...hmmm aku sangat tau dari tatapannya yang melihat aku sama seperti biasanya. Akhirnya richie dan chie berjalan kearah kami dan sewaktu mereka berjalan mendekat kearah kami chinta menggandeng lengan richie dengan mesranya. “hai...” sapa chinta kearah willy dan tanpa melihat aku karena aku sangat yakin sebenarnya dia tau bahwa aku dan richie pernah berpacaran. “ya ampun kalian mesra banget” willy kayaknya ngak mau kalah dari richie dia menggenggam erat tanganku, dan saat itu sekalipun aku hanya menunduk tapi sesekali aku melirik kearah richie yang melihat aku dan willy yang mungkin dia merasa saat itu kami sangatlah serasi. “iya donk...trus kalian sendiri kayaknya kompak banget” tanya chinta yang terkesan sinis melihat kearahku. Aku hanya melihat dia dengan perasaan yang juga ngak enak ya cukup lumayan menyita perasaanku. “yup...sekarang ina udah jadi pacar aku” senyuman willy saat itu kurasa sangatlah seperti penjahat yang ingin menerkam richie. “bukannya dulu kau pernah bilang kalau richie dan ina pernah pacaran” nada suara chinta ngak terlalu merdu buat aku dengar. Pertanyaan chinta sangat membuat kami bertiga cukup terkejut mendengar kata-kata chinta “hmmm itu...itukan dulu sekarang ina udah jadi pacar aku saat mereka putus” jelas willy sambil tersenyum kearahku dan aku hanya bisa menundukkan kepala sedangkan richie mencipitkan matanya kearah chinta. “ya udah gimana kalau kita main-main ditimezone ini aja” chinta ternyata ngak ingin dan ngak berharap kalau richie akan marah makanya dia mengalihkan pembicaraan. Kami pun berjalan berempat dan ini bisa dikatakan kami double date. Saat aku cukup lelah untuk bermain aku pun duduk sebentar ditempat yang disediakan dan ternyata richie juga tetapi dari jarak yang cukup jauh tetapi masih bisa buat kami saling memperhatikan satu dengan yang lain.
Hingga sesuatu membuat aku harus mengalihkan pandanganku dari tatapannya saat willy datang menghampiriku “kamu ngak ikut main lagi” tanyanya sambil membelai rambutku “ngak...aku capek banget” aku memberi senyumku pada willy “ya udah kalau gitu kita pulang aja, gimana?” seakan aku ngak ingin menghilangkan kesempatanku bersama richie aku malah membuat alasan yang itu mungkin membuat willy senang tetapi bukan untukku “ngak kok ya udah sana temani chinta main aku ngak papa kok disini istirahat dulu, inikan date pertama kita” hal yang paling bodoh yang pernah aku katakan dan willy hanya tersenyum dan saat willy meninggalkan aku dan kembali kearena permainan, aku melihat kearah richie kembali dan kali ini aku melihat ada seorang anak berdiri didekat richie dan aku ntah kenapa pendengaranku sangat peka terhadap kata-kata anak kecil itu “kakak suka sama kakak cwe yang cantik disana ya soalnya dari tadi kakak memperhatikan kakak itu ” tunjuk anak itu kearahku dan ternyata kayaknya bukan aku saja yang mendengar kata-kata anak itu bahkan hampir diarena permainan itu tersita pandangannya untuk memperhatikan kearah richie dan anak itu dan setelah itu aku, dan ternyata willy dan chinta juga. Dan saat itu aku sangat yakin kalau chinta sangat marah “eh...adik kecil, dia pacar aku” chinta memelototkan matanya kearah anak kecil itu sedangkan anak kecil itu hanya menjauh setelah itu mengatakan seesuatu yang cukup makin membuat chinta emosi dan kali ini willy juga “eh...kakak yang cerewet, tapi aku pikir kakak ini suka sama kakak cwe yang duduk disana deh dan lagi pula kakak itu lebih cantik dan manis lagi, wek” anak itu berlari dari hadapan chinta sambil menjulurkan lidahnya “ih...brengsek...” chinta memukul cukup keras tangannya tanda bahwa dia cukup kesal. Lalu entah apa yang dipikirkannya dia datang kearah aku yang saat itu willy sudah ada didekatku “tolong ya willy, pacarmu dinasehati, bilang sama pacarmu kalau dia dan richie udah ngak ada hubungan lagi dan lagi pula richie tuh punya aku” chinta menunjuk kearah dadanya dan dengan emosi yang masih menyala-nyala. “kayaknya kamu salah deh, ina tuh udah ngak suka lagi sama richie atau malah richie yang suka sama ina” willy balik membalas kata-kata chinta, tiba-tiba saja secara serentak aku dan richie ambil bicara dan sama-sama mengatakan “kami udah ngak ada hubungan apa-apa lagi” secara bersamaan pula aku dan richie saling tatap-tatapan hingga akhirnya aku menundukkan kepala “ lagi pula aku ngak cinta sama pacarnya willy kok” jelas richie yang cukup membuat hatiku sakit tapi aku mencoba tersenyum. Willy dan chinta hanya mampu terdiam. Sesaat setelah itu suasana membisu dan aku sangat tau willy, dia adalah cwo yang benar-benar dewasa tanpa tunggu lama dia mengambil sikap “hmm pada lapar ngak sih gimana kalau kita pada makan” kami pun akhirnya setuju atas saran willy dan masih sama seperti tadi chinta melihat aku dengan sinisnya.
Aku, willy, Richie dan chinta mengambil posisi yang cukup enakan disudut ruangan restoran “jadi kalian pada pesan apa” Tanya willy sicwo bijaksana pada kami bertiga “aku..terserah sama willy aja” aku tersenyum kearah willy, lagi-lagi chinta memperkeruh keadaan “Richie makan apaan, chinta ikutan aja deh” chinta memegang tangan Richie dengan manjanya dan aku hanya mampu melirik mereka. Seakan-akan willy sangat tau keadaanku saat itu dia memberikan senyumnya kearahku dan itu membuat aku sangat yakin bahwa willy cemburu. Pesanan kami pun akhirnya datang juga dan saat pesanan kami datang tiba-tiba salah satu makanan tertumpah kearahku dan anehnya saat makanan itu jatuh kearahku Richie langsung mengambil tissue yang cukup jauh dari arah tempat dia duduk dan langsung menghapus tumpahan yang terjatuh kearahku dan willy serta chinta secara spontan melihat kearah kami dan anehnya aku tak menghiraukan apa yang mereka fikirkan tentang kejadian yang terjadi antara aku dan Richie, kami masih asyik dengan suasana saat itu tiba-tiba “apa-apaan sih Richie” chinta langsung menghempas tangan Richie yang saat itu sedang menghapus tumpahan makanan dari celanaku tapi ngak ada yang tau apa yang terjadi pada Richie, dia tetap saja masih asyik membersihkan celanaku, kali ini willy yang angkat bicara dan aku hanya mampu terdiam dengan rasa kaget dalam diriku “Richie…kamu taukan ina pacarku dan bukan pacarmu lagi, jadi aku harap kamu bisa mengerti keadaan yang telah terjadi” sesaat itu pula Richie menghentikan kegiatannya dan hanya mampu terdiam. Suasana sejenak hening, aku masih bertanya akan keadaan Richie kenapa dia bisa jadi seperti ini. “sekarang jawab pertanyaanku, sebenarnya maksudmu apa yang barusan saja kamu lakukan itu, terus kamu masih cintakan sama ina” suara chinta menyita perhatian beberapa orang yang ada disitu karena suaranya yang cukup keras dan pertanyaan chinta membuat aku terhenyak saat itu pula, willy menatap lekat kearah Richie yang saat itu hanya mampu terdiam dan kali ini aku memberanikan diriku menatap Richie yang membuat dia menjadi melihat kearahku “aku juga ingin tau jawabanmu” tanyaku sambil menatap matanya dan aku merasakan itu sangatlah sakit tapi aku mencoba bertahan dan masih seperti biasa Richie hanya terdiam “makasih buat jawabanmu yang sampai sekarang belum aku temui” aku bangkit dari kursiku dan hendak berlalu “ina kamu mau kemana?” Tanya willy sambil memegang tanganku “maaf wil…aku udah mengecewakan kamu tapi kasih aku kesempatan maka kali ini aku akan melupakan seseorang yang dulu aku anggap sayang samaku” aku melepaskan genggaman tangan willy dan tersenyum sambil berlalu “sebenarnya apa sih maumu Richie” Tanya willy kembali kearah Richie “aku ngak tau apa yang udah aku lakukan, dan buat chinta aku ngak bisa membalas cintamu sama aku karena aku ngak cinta sama kamu” kata-kata itu terdengar samar ditelingaku setelah itu aku tak mengetahui apapun karena aku sudah tidak bersama mereka lagi.
Sesampainya dirumah ternyata mama dana papa sudah berada didepan rumah, aku ngak tau kenapa mereka menungguku aku merasa mereka seakan tau keadaanku saat ini “mama…papa kenapa bisa diluar nungguin ina ya” tanyaku sambil memberi senyuman, mama hanya mampu menggelengkan kepala tanda bahwa mereka bukanlah menunggu aku “ina ada yang menunggumu selain kami dan papa dan mama fikir dia sangat penting buat kamu” papa melihat kearahku yang saat itu tampak bingung aku menaikkan kepalaku memberi tanda bahwa aku tidak tau siapa yang dimaksudkan mereka. Mereka pun menyuruh aku buat masuk kedalam rumah tapi tanpa mereka, karena mereka menunggu diluar. Saat aku masuk aku melihat sudah ada Richie disofa kami “hai…ina” sapaan Richie yang ngak biasanya aku alami, aku merasa saat itu aku sangat ingin menyuruh Richie untuk keluar tapi aku tak kuasa, aku hanya tersenyum kearah Richie. “aku boleh bicara sama kamu” Tanya Richie kearahku, lagi-lagi aku tak bersuara aku hanya mampu buat menganggukkan kepala. Aku pun memberanikan diri duduk disofa tepat berada disamping Richie tapi itupun aku lakukan setelah Richie lebih berani buat menyuruh aku dekat dengan dia. Cukup lama kami saling membisu tanpa ada salah satu dari kami untuk memulai berbicara hingga akhirnya “hmmm…” Richie mendesah seakan sulit untuk memberitahu apa yang ingin dia katakan, karena aku lelah buat menunggu Richie berbicara, aku pun mengambil sikap berdiri dan ingin pergi saat itu juga dari hadapannya hingga dia menarik tanganku “maafkan aku…” kata-katanya membuat aku membalikkan badanku kearahnya setelah sesaat aku berhenti karena dia menarik tanganku. Aku melihat kearah dia tanpa mendekat tapi aku ngak berani buat bertanya apa yang sedang terjadi pada dia. Richie masih memegang tanganku dengan erat dan saat itu jantungku berdetak dengan kencangnya dan aku seakan ingin mati saja karena aku saat itu merasakan bahwa Richie masihlah pacarku. Richie berdiri dan memberanikan diri mendekatkan tubuhnya kepadaku dan aku ngak mampu buat menolak apapun yang terjadi. Richie memegang kepalaku dan membelai rambutku dan saat itu aku ngak mampu berbuat apapun aku hanya mampu menutup mataku dan merasakan kehadiran Richie yang saat itu membuat aku tak berdaya. Saat itu pula aku berharap Richie mencium aku hingga tiba-tiba suasana menjadi sangat mengecewakan “maafkan aku ina, aku sudah salah besar memperlakukanmu seperti ini sedangkan aku tau kamu pacarnya temanku” aku membuka mataku dengan perlahan dan ngak percaya pada pendengaranku, Richie melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkan aku tapi sebelum Richie meninggalkan aku sejenak dia terdiam dan berhenti sedangkan aku hanya tertunduk lalu dia mulai melangkahkan kakinya saat langkah pertamanya aku pun berlari menghampirinya dan memeluk pundaknya dan saat itu aku ngak ingin melepaskannya dari pelukanku. Aku sangat merasakan degupan jantungnya yang sama seperti yang terjadi padaku. Aku dan dia cukup lama terhanyut pada kejadian yang terjadi hingga air mataku melepaskan kami dari lamunan, air mataku jatuh dipundak tempat aku berlabuh dan Richie pun melepaskan pelukanku dan ngak berani menatap aku hingga akhirnya aku belari kedepan dia yang tetap saja ngak pernah berani menatap aku hanya terpaku. Entah keberanian apa yang ada pada diriku aku memberanikan diriku untuk lebih mendekat kearah Richie saat itu aku tak memikirkan rasa malu pada diriku dan sekalipun Richie sangat tinggi dibandingkan aku memberanikan diriku untuk jinjit dan mencium Richie dan untuk beberapa saat kami sama-sama menikmati itu hingga akhirnya “kamu boleh pergi dan aku harap suatu saat nanti kau tidaklah lagi mengantung perasaanku seperti ini” aku membelakangi pundak Richie dan tanpa berbasa basi aku meninggalkan Richie seorang diri yang saat itu masih ngak percaya sama kejadian yang terjadi.
Malam yang benar-benar menyesatkan aku. Sesaat setelah Richie pergi dan pamitan dari mama dan papa, mama langsung mendatangi aku dan melontarkan banyak pertanyaan “gimana sayang sudah selesai masalah kalian berdua?” Tanya mama sambil membelai rambutku yang saat itu aku merasakan kembali saat tadi aku bersama Richie. “ngak ada apa-apa mam, aku dan Richie sudah benar-benar putus dan tak ada lagi hubungan yang seperti mama fikirkan” aku hanya menelungkupkan badanku. <hmmm ternyata Richie yang menjadi pacar pertama sekaligus ciuman pertamaku> fikiranku selalu mengarah kearahnya “kamu masih memikirkan richiekan” Tanya mama memperjelas perasaanku “ngak sama sekali mama…” aku menaikkan volume suaraku yang membuat mama sedikit terkejut hingga aku pun meminta maaf pada mama atas kejadian itu dan lagi-lagi mama memberiku semangat dan tersenyum “ya sudah sekarang kamu boleh tidur dan jangan lupa berdoa supaya besok hari akan lebih baik” mama pun meninggalkan aku sendiri dikamar. Aku benar-benar bingung dan masih belum percaya atas kejadian yang terjadi.
Pagi yang sangat aku harapkan agar lebih indah, ya sekilas dari keadaan alamnya aku berfiir pasti akan lebih baik.
Sesampainya disekolah aku masih seperti biasa dan aku beerharap tak ada yang tau kejadian malam yang terjadi “woi…teriakan temanku mengagetkan aku dari lamunanku saat berjalan dan ternyata teriakan yui bukan hanya membuat aku terkaget tapi Richie, willy dan teman-teman sekelas mereka melihat kearah kami, dari kejauhan aku melihat mereka dan saat itu pula willy melambaikan tangannya kearahku dan berlari kearahku “hmm…pagi sayang, gimana tidurnya semalam nyenyak kan?” Tanya willy dengan senyumannya yang tak pernah terlepas dari bibir merahnya. Aku memberi senyumanku pada willy dan tiba-tiba saja aku ingin melirik kearah Richie lalu mengalihkan pandanganku kearah willy kembali “sayang ntar pulang aku antar ya” willy melihat kearahku “ya udah jumpa dimana sayang” tanyaku dan membuat yui dan hera seakan tak percaya dan willy sendiri sekalipun heran tapi aku sangat tau bahwa dia sangat senang akan hal itu “ya udah ntar aku jemput kamu dari kelas kalau kami nanti yang duluan keluar dan kalaupun ntar kalian yang pulang duluan tunggu aku diparkiran aja ya” willy memegang tanganku sambil membelai rambutku dan aku hanya mampu tersenyum. Hingga akhirnya dia berlalu dan meninggalkan kami dan kami pun memasuki kelas. Aku sangat tau pastinya teman-temanku pada bakalan bertanya dan sebelum mereka memberikan aku pertanyaan aku pun hanya tersenyum sambil mengatakan “ aku akan mencoba mencintai willy” mereka memberikan senyum yang membuat aku tambah jadi merasa bingung sama perasaanku.
Masih asyik dengan pelajaran yang diberikan oleh guru kami tiba-tiba pengumuman untuk pulang cepat pun diberitaukan semua anak-anak kelas kami pun pada bersorak gembira. Selesai guru mata pelajaran kami saat itu keluar dari kelas aku melihat willy sudah menungguku sedari tadi “sayang aku minta maaf ya, soalnyakan disini aku yang jadi ketua osis jadi aku harus aktif” willy memegang tanganku didepan teman-temanku “ya udah ngak apa-apa” senyumku merekah kearah willy “lagi pula kan kak, ina bisa pulang bareng kami” hera dan yui saling lirik-lirikan “ya udah jagain ina ya” willy melihat kearah yui dan hera dan mengatakan supaya menjaga aku “cie…segitunya” ledek mereka berdua kearah aku dan willly, kami hanya mampu tersenyum dan tersipu malu. Setelah itu willy pun berlalu dari hadapan kami, selang beberapa menit dari kepergian willy dan suasana sekolah sudah cukup sunyi, aku terkejut akan kehadiran seseorang yang tak lain adalah Richie, yui dan hera pun jadi ikutan bingung tapi mereka mencoba memahami dan mereka pun pergi meninggalkan kami dalam kelas “ina kami tinggal dulu ya” yui menambah volume suaranya dengan sedikit rasa kecewa sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku saja, “kalian ngak usah pergi” kata-kata Richie membuat langkah kaki yui dan hera tertahan “maksud kakak?” Tanya hera dengan memperhalus kata-katanya “aku hanya mau mengajak ina pulang bareng aku saja” lagi-lagi Richie membuat bingung kami bertiga “itu sih terserah ina aja” yui tetap ngak suka sama Richie karena yui merasa kalau Richie sudah mempermainkan aku. ”ina, kamu maukan pulang bareng aku” Richie memberaikan diri menatap mataku “ya udah…” lalu saat itu aku langsung minta pengertian dari teman-temanku dan aku sangat mengerti pasti mereka akan mengerti.
Aku dan Richie berdua jalan kearah parkiran dan saat kami berdua berjalan Richie memegang tanganku dan yui serta hera menjadi saksi kali pertama Richie memegang tanganku, tapi tetap saja aku ngak pernah menolak malah aku merasa ini adalah hal yang terindah yang terjadi antara hubunganku dan Richie. Richie pun mengambil keretanya dan aku naik diatas motornya, memang iya sih ini adalah kedua kalinya aku menaiki motornya Richie dan tau apa hal yang teraneh “peluk aku ya supaya kamu ngak jatuh” aku saat itu benar-benar bingung atas perubahan Richie, aku seakan ngak mengenal Richie yang sekarang yang sangat berbeda jauh dari Richie yang benar-benar cuek terhadap aku tapi sekarang benar-benar membuat aku merasa aneh, aku pun melingkarkan tanganku memeluk Richie dan aku merasakan bahwa sesuatu yang indah mungkin dapat terjadi antara kami.
Selama perjalanan Richie dan aku saling ngak bicara hingga akhirnya Richie memberhentikan motornya disebuah pondok kelapa yang tidak terlalu ramai tetapi bisa dikatakan cukup romantis karena dekat dengan pantai “kenapa kita kemari” aku memberanikan diri bertanya sambil turun dari atas motornya, lalu tiba-tiba Richie menggenggam tanganku dan mengajakku berlari mengitari pantai. Saat itu aku seakan merasa bahwa Richie kembali untukku dan aku merasa bahwa aku sudah jahat terhadap willy karena sudah mengkhianati dia. Angin pantai saat itu membawa aku dan Richie seakan terbang dan menikmatinya. Aku masih merasakan hal yang aneh terhadap kelakuan Richie, aku ngak ingin melanjutkan ini dengan cepat aku menghempaskan genggaman Richie terhadap tanganku dan aku membalikkan tubuh Richie kearahku “aku ngak suka kamu memperlakukan aku kayak gini, sebenarnya apa maumu Richie?” aku memberikan tatapan sinisku kepadanya “maafkan aku selama ini ina, aku baru sadar kalau aku sangat membutuhkanmu” penjelasan yang baru saja dikatakan Richie padaku membuat aku tak percaya atas pendengaranku “apa kamu bilang?” tanyaku minta supaya mengulangi kata-katanya “aku ngak bisa melihat kamu dekat dan jadian dengan willy, aku ngak bisa merelakan” Richie menggenggam erat tanganku dan aku sangat tau itu adalah genggamannya yang sangat aku bisa rasakan seakan ngak ingin aku lari dari dirinya “aku masih ngak ngerti maksudmu” aku sangat ingin menangis aku berfikir sebenarnya Richie itu bodoh atau pura-pura ngak tau atas perkataanku dan maksudnya. Aku hanya melihat Richie hanya terdiam dan menunduk “aku benci sama kamu” jeritku kearahnya yang membuat dia tersentak dan memberanikan diri menatapku “kenapa ina?” tanyanya padaku seolah dia ingin suatu penjelasan dariku “kenapa kamu harus kembali dalam kehidupanku dimana saat aku sudah memilih willy temanmu sendiri, maumu apa?” teriakku lagi padanya seakan ingin meminta penjelasan yang pasti darinya “maafkan aku” pintanya padaku sambil memeluk aku, tapi tetap saja aku ngak bisa terima akun sikap Richie yang ngak jelas seperti ini. “Richie, kapan kamu mampu untuk mengatakan kalau kamu cinta sama aku” isakan tangisku sangat jelas dirasakan oleh Richie saat dia masih memelukku. Richie masih belum melepas pelukannya sedangkan aku sendiri masih sangat menikmati pelukan yang hangat tersebut dari Richie. “aku ngak bisa Richie, aku udah salah sama willy dan chinta sendiri” aku melepaskan pelukan Richie, tiba-tiba saja bunyi telfon sangat terdengar dan cukup menganggu kami, dengan cepat aku menjauh dari Richie dan mengangkat telfon tersebut “hai ina, udah sampai rumah ya dari tadi, aduh aku mintamaaf ya sayang tadi ngak bisa ngantar kamu pulang soalnyakan ada rapat, kamu ngak marahkan” suara diseberang sana adalah suara willy yang sangat perhatian terhadapku tidak seperti Richie, aku tak menghiraukan apa yang dikatakan diseberang telfon aku hanya menatap kearah Richie yang aku harap memikirkan kata-kataku tadi “aku udah sampai dari tadi kok tapi aku minta maaf ya soalnya aku pergi bareng temanku” aku memberi alas an yang hamper mendekati kata jujur walaupun belum bisa dikatakan seperti itu. Ternyata suaraku yang parau akibat aku menangis sangat peka dan dapat dirasakan oleh willy “kamu baru nangis ya sayang” Tanya willy yang membuat aku tersentak “ngak kok sayang, perasaan kamu aja kali” jelasku dengan kebohongan yang ternyata mampu membuat willy percaya hingga akhirnya kami sepakat memutuskan pembicaraan kami. Lalu setelah itu aku berjalan mendekat kearah Richie “aku mau pulang” pintaku pada Richie, ternyata dia hanya terdiam dan terpaku ditempat dia berdiri hingga aku mengulangi kata-kataku kembali “aku mau pulang” kembali aku menatap sinis kerah Richie, aku berjalan menjauh dari Richie tapi sebelum aku beranjak lagi-lagi Richie menarik tanganku dan menarik aku lebih dekat hingga kami pun saling merapat dan berpelukan “aku ngak bisa mengatakan kata itu karena aku ngak sangup dan belum mampu mengatakannya karena sulit bagiku mengatakan kata itu pada orang yang benar-benar aku sayangi” kata-kata Richie membuat aku terhenyak dan dengan cepat melepaskan pelukan Richie, aku masih bingung atas kata-kata Richie yang baru saja dikatakannya “aku masih ngak ngerti maksud kata-katamu” masih dengan tangisanku, aku pun memalingkan tatapanku dari Richie tanpa aku berani menatap dia “aku minta maaf karena selama ini aku sudah membuatmu kecewa” Richie masih belum mampu mengatakan kata yang penting bagiku “coba katakan kalau kamu cinta sama aku, bilang Richie” aku menggenggam erat lengan Richie dengan tangisanku yang ngak mampu aku pendam lagi yang kini aku keluarkan dikekecewaanku saat ini. Richie jadi terdiam dan ngak mampu mengatakan apapun, aku masih erat menatap Richie dan menginginkan jawaban darinya “aku udah tau jawabannya, kamu bukanlah mencintaiku tapi ambisius mu yang menginginkan aku dan mengecewakan willy, makasih Richie, atas semuanya” aku berjalan menjauhinya dan kembali ngak menginginkan untuk menatapnya. Sekalipun Richie pernah masuk dalam kehidupanku tapi aku ngak pernah merasakan bahwa Richie pernahlah menjadi pacarku untuk pertama kalinya. Sekarang aku mulai sadar bahwa Richie tetaplah Richie yang ngak pernah mencintaiku. Aku masih berjalan menjauhi Richie sekalipun aku berjalan dengan langkah yang cukup bisa dikatakan lambat, itu sengaja aku lakukan berharap kalau Richie akan memanggil aku kembali padanya tapi ternyata semua salah buat selamanya Richie ngak akan pernah melakukan itu “ina…aku mencintaimu…” secara spontan langkahku terhenti hingga aku tersadar atas apa yang baru aku dengar seorang Richie yang aku ingin dengan mengatakan itu akhirnya aku bisa dengar pada suasana dan ditempat yang aku selalu harapkan yup dipantai disuasana yang romantis sekalipun setiap kata yang terdengar akan teredam oleh suara desiran air yang mengombak dipantai malam itu, hingga akhirnya butiran bening keluar dan seakan mengejekku, aku menangis, aku pun membalikkan badanku untuk menatap dan menginginkan Richie mengulangi kata-kata itu. Aku berjalan dengan perasaan hatiku yang diselimuti rasa yang tak mampu aku ungkapkan sekalipun saat itu akan datang malaikat cinta untuk menanyakannya. “aku ngak mendengar apa yang kau katakana dan mungkin saat ini aku ngak mampu mendengar” sekarang aku sudah tepat berada didepan Richie yang masih tertunduk dan ngak berani menatapa aku, aku hanya mampu mengeryitkan keningku dan terseenyum sinis tanda aku ngak percaya pada seorang Richie yang penakut “Richie…” aku seakan ngak mampu menahan amarahku padanya hingga aku menambah kekuatan volume suaraku, Richie pun memberanikan diri menatap aku sejenak hingga dia mendekap sangat erat tubuhku, dia memelukku seakan ngak ingin aku pergi dari dirinya, aku melepaskan pelukannya karena aku ngak akan mau lagi selalu bertanya akan perasaanku yang ngak pernah jelas “satu…hanya satu yang aku ingin, aku hanya ingin kau katakan kau mencintaiku” aku menangis seakan memohon padanya, aku menatap lekat matanya. Dan kembali lagi aku dilabuhkan dipelukannya dan kali ini aku sangat ingin mendekap erat dia juga tanpa melepaskannya “aku mencintaimu ina…” saat itu yang aku rasakan aku hanya ingin menutup mataku agar aku tak bangun dari mimpi yang aku jalani tapi ternyata aku ngak harus menjalaninya hanya dalam mimpi karena aku sangat sadar saat ini aku sudah terbangun dan berada dipelukan seseorang yang sangat aku cintai sekalipun aku dan dia pernah menjalani saat-saat yang benar-benar bukanlah saat yang indah, saat itu ntah apa yang terjadi aku seakan tersihir dan aku sangat ingat bahwa aku…aku sudah melukai perasaan willy, aku menjauh dari Richie dan membalikkan badanku dari hadapannya lalu Richie memelukku dan aku sangat merasakan pelukannya karena inilah kali pertama saat Richie memanglah yang terindah yang aku harapkan tapi aku ngak mampu untuk meninggalkan willy hingga suasana kami berdua terpecah saat sebuah telfon bordering dan itu dari mama “ina…kenapa belum pulang sayang” suara mama dari seberang masih aku rasakan seperti ada rasa cemas “iya mama ina sekarang bersama Richie” jelasku pada mama hingga mama pun mulai menghilangkan rasa cemas dalam dirinya “tadi Richie datang kerumah” mama membuat suasana memburuk saat mama mengatakan itu aku menatap Richie yang saat itu mendengar sangat jelas pembicaraanku pada mama “mam…jangan beritau willy aku bersama Richie” pintaku pada mama yang sesaat itu pula mama sangat mengerti dan hingga akhirnya mama menyudahi pembicaraan kami “aku harus pulang” aku melirik Richie sekilas hingga aku memalingkan wajahku dari pandangannya “kamu sudah mulai mencintai willy” Tanya Richie kearahku yang membuat aku menghentikan langkah kakiku, aku membalikkan badanku dan menatap sayup matanya “aku ngak bisa mencintai oranglain seperti aku mencintaimu” aku masih lekat menatap Richie yang masih bingung akan kata-kataku “lalu apa ina masih mau berpacaran dengan Richie kembali” Tanya Richie yang membuat aku membelalakkan mataku tanda aku tak percaya dan takut untuk menjawabnya. Aku ngak mampu menjawab pertanyaan Richie dan akhirnya posisiku sama seperti saat Richie bimbang menjawab perasaanku “aku ngak akan memaksamu menjawab pertanyaanku, aku hanya ingin memberanikan diriku untuk mengatakan aku mencintaimu…aku sangat mencintaimu” Richie mempercepat jalannya melewatiku, kata-kata yang sangat aku inginkan diucapkan oleh Richie tapi kenapa aku memikirkan willy. Aku dan Richie hanya diam sepanjang setelah kami meninggalkan pantai itu.
Hingga akhirnya aku diantarkan oleh Richie kerumah, aku melihat mama yang ternyata udah tau aku akan pulang. Mama yang berdiri diteras rumah, tiba-tiba saja masuk dan sangat tau yang harus dilakukan mama. Sesaat setelah mama masuk “makasih udah ngantarkan aku sampai rumah” aku berjalan meninggalkan Richie tapi aku tersadar Richie masih berdiri terpaku hingga diapun tak menyadari aku berlari kearahnya, dengan nafas yang masih terasa ngos-ngosan aku mencium dia, tapi kali ini aku hanya mencium pipinya lalu setelah itu Richie tersenyum “makasih buat malam yang indah ini, aku akan tetap menunggu jawaban darimu” senyumku saat itu seakan tertahan dan aku tak mampu tersenyum tapi aku berusaha mengantarkan Richie buat naik kemotornya dengan senyumku sekalipun hanya paksaan “da Richie” aku melambaikan tanganku kearah Richie dan kali ini Richie memang benar-benar telah berubah dia memberikan seenyuman terindahnya padaku yang dari dulu sangat aku harapkan.
Malam yang benar-benar dingin yang membawaku pada perasaan yang ngak pernah jelas dan bisa dikatakan aku ngak bisa menentukan apa yang terjadi pada diriku sesungguhnya. Aku melihat kearah handphoneku yang tiba-tiba saja bordering dan itu sebuah pesan dari sebuah nama yup willy “malam sayang udah tidur belum” pesan yang membuat aku semakin bertambah bersalah pada willy, aku ngak sanggup untuk menjawab SMS dari willy dan saat aku melamunkan willy tiba-tiba willy menelfon aku, aku berfikir untuk mengangkat telfon dari willy hingga kuputuskan tak mengangkat telfon dari willy. Aku melirik kearah jam dinding kamarku, waktu saat itu belum terlalu malam buatku tidur tapi aku berusaha untuk menutup mataku dan ingin agar pagi nanti tidaklah serumit malam ini. Aku masih memaksa mataku agar tertutup.
Pagi yang mengajak aku untuk membuat keputusan yang cukup berat untuk aku ambil keputusan cintaku. “pagi sayang…” sapa mama dengan senyum yang sangat khas bagiku “pagi mama…pagi papa…” aku pun tersenyum kearah mama dan papa “gimana tidur kamu, pasti mimpi indahkan” pernyataan yang salah dari mama, mama pasti berfikir sekalipun aku bersama orang yang aku cintai semalam aku akan menikmati malam yang indah tapi ternyata salah aku malah makin bingung sama apa yang sedang aku hadapi, aku ngak tau apakah aku peduli pada willy karena benar seperti yang dikatakan Richie semalam bahwa aku telah mencintainya atau aku hanya menganggap aku peduli padanya karena aku merasa bersalah karena sudah melukai hati seseorang yang benar-benar sayang padaku dan apakah aku bisa kembali menerima Richie dihatiku jadi pacarku kembali sekalipun aku masih sangat mencintainya atau aku hanya terlalu terobsesi atas cintaku padanya yang masih belum aku temukan jawabannya. Aku sangat bingung, hingga mama menyadarkan aku dari lamunanku. “ina…kenapa termenung, jelek tau anak gadis termenung sambil berdiri” ledek mama padaku, aku hanya bisa tersenyum kemama.
Akhirnya saat yang tak pernah aku ingin hadapi, yup aku harus berjalan dikoridor sekolah dengan perasaan yang tak pernah jelas. Aku tak mampu atau malah aku tak berani untuk melihat sekelilingku karena sekarang difikiranku adalah semua hanya meledek aku akan percintaanku yang tak tau apa yang akan terjadi hingga sebuah suara seakan membuat jantungku copot “pagi sayang…” suara willy yang membuat aku terhenti dari langkahku tapi tak berani untuk melihat kearahnya “ina…pagi…kok ngak ngelihat willy sih” willy menghadapkan wajahnya kearahku “hmmm pagi wil…” aku sangat yakin pasti willy merasa aneh akan diriku saat ini “ina kenapa? Sakit ya?” willy memegang keningku dan itu membuat aku semakin merasa bersalah padanya “ngak kok” aku melepaskan tangannya dari keningku sambil menggelengkan kepalaku. Dia hanya mampu tersenyum kearahku dan aku juga membalas senyumannya dengan senyum kecil dari bibirku “aku mau masuk neh” aku kembali tersenyum kearahnya sambil menunjuk kearah lokalku “ya udah, aku antar ya” aku pun berjalan berdampingan dengan willy, tiba-tiba pandanganku tersita pada seorang cwok yang tak lain adalah Richie kali ini aku tak melihat Richie bersama chinta kali ini aku memberanikan diriku bertanya pada willy “wil…richie kenapa ngak sama chinta lagi ya” tanyaku tanpa ada perasaan bersalah mempertanyakan hal itu, pastinya langsung saja willy melihat aku dengan pandangan yang mencurigakan dan dengan cepat aku langsung mengalihkan pandanganku kearah lain “ya maksud aku biasanya kan mereka langsung berdua benarkan” jelasku buat menghindar dari tatapan mencurigakan willy “ooo…richiekan sebenarnya ngak pernah jadian sama chinta, tapi dasar chintanya aja yang merasa kalau dia dicintai sama Richie” penjelasan willy kini cukup membuktikan keputusan apa yang akan aku ambil, aku hanya menganggukkan kepalaku pada penjelasan willy.
Akhirnya selama pelajaran lengkap sudah kebodohan yang terjadi pada diriku, karena selama pelajaran aku selalu kena tegur karena aku hanya melamun saja untungnya aku ngak sampai dikeluarkan pada jam pelajaran.
Yui dan hera bingung melihat keadaanku saat ini yang terjadi ntah masalah apa pada diriku “ina…kamu kenapa sih?” Tanya yui yang dengan antusius ingin mendengar jawabanku “kamu dan Richie ngak ada masalahkan semalam waktu kalian jalan berdua” hera menatap aku yang masih tampak bingung “Richie…ingin aku balikan dengannya” jelasku pada teman-temanku yang membuat mereka membelalakkan matanya kearahku tanda bahwa mereka ngak percaya “maksudmu…dia nembak kamu lagi ya” Tanya hera kembali padaku dan sebelum aku mengiyakan atas pertanyaan hera, yui memotong dengan pernyataan yang bagiku itu sangat bertentangan dengan perasaanku “kamu ngak menerima pernyataan kak richiekan” yui kembali memelototkan matanya kearahku, tampaknya yui ngak suka kalau aku kembali menerima cinta Richie “aku belum jawab” aku melihat yui yang tampak mengelus dadanya tanda ngak percaya atas apa yang terjadi padaku “ina…ina…loe dah sering dijahati sama kak Richie, tapi tetap aja loe masih mempertimbangin dia, mau loe kemanakan kak willy” tampaknya yui marah besar atas sikapku yang plin-plan, hera hanya menatapku dan menyenggol yui “ina…apapun keputusanmu, apapun yang akan menjadi pilihanmu kami berdua tetap dukung kok, tapi satu hal jangan sampai menyakiti hati siapa pun ya” aku hanya mampu mendesah cemas dan tak mampu untuk menatap teman-temanku “aku ngak tau her…perasaan kecilku mengatakan kalau aku sudah buat salah sama willy dan aku merasa dia ngak pantas buat ngedapati kayak gini tapi aku ngak bisa memungkiri kalau aku masih sayang sama Richie sekalipun dia pernah tak menganggap aku apapun tapi aku sangat yakin semua yang dilakukannya saat itu karena dia masih bingung ma perasaannya sendiri” jelasku kearah mereka sambil menahan butir-butir yang ternyata tak mampu untuk aku bendung “ya udah dengar apa kata hatimu aja, kalau memang kamu mau memilih Richie, jelaskan pada kak willy bahwa kamu juga sayang kedia tapi kamu belum bisa untuk melupan kak Richie” aku melihat kearah yui yang ternyata paham sama penjelasan hera dan tersenyum, mereka pun memelukku memberi semangat.
Saat yang cukup mendebarkan buat aku, karena apapun yang akan terjadi aku haruslah mengakhiri semua ini. Aku dan teman-temanku udah menunggu Richie dan willy ditempat dimana aku ingin berjumpa dengan mereka sesaat setelah aku mengirim SMS pada mereka masing-masing. Ngak terlalu lama buat aku menunggu mereka berdua karena mereka datang dari arah yang berlainan pada waktu yang sama “Richie…kenapa kemari” Tanya willy pada Richie yang hanya terdiam. Aku sangat mengenal Richie yang benar-benar penakut yang tak mampu untuk mengatakan apapun dan aku ngak pernah suka sama sikap Richie. “aku yang menyuruh kak willy dan kak Richie kemari” aku pun menjawab pertanyaan kak willy yang ditanyakan pada Richie sedangkan Richie membuang pandangannya padaku “maksud ina?” Tanya willy yang ngak tau apapun, sedangkan yui dan hera ngak mampu untuk ambil bicara, mereka hanya melihat apa yang akan terjadi atas cintaku. Cukup lama kami saling membisu hinnga sesuatu hal dan itu sangat membuat aku terkejut dan mungkin bukan aku saja melainkan hera,yui dan kak willy juga “maaf wil, aku ingin mintamaaf terlebih dahulu kekamu, aku hanya ingin bilang ternyata aku  ngak bisa menipu perasaanku sendiri, aku ngak bisa melihat ina dan kamu berdekatan dan aku merasa aku sangat ngak bisa terima kamu jadian dengan ina, sedangkan aku sendiri masih sayang sama ina” pernyataan Richie membuat willy marah dan memelototkan matanya kearah Richie “dimana kamu saat ina membutuhkan kamu, dimana kamu saat ina sedih terus kenapa kamu tega melepas ina begitu saja” secara spontan aku menampar kak willy dan aku sendiri merasa itu bukanlah diriku “ina…” hera dan yui terkejut sama yang aku lakukan “maaf kak, aku reflex” aku menatap willy dengan tatapan sendu dan aku berharap dia mau memaafkan aku “aku tau, ina masih mencintai richiekan” kak willy tampaknya sangat marah keaku, sedangkan aku hanya mampu terdiam “wil…semua bukan salah ina tapi aku…aku yang udah memulai merusak fikiran ina untuk melupakanmu, aku mintamaaf” Richie menatap aku dengan perasaan bersalah “kenapa saat aku merasa aku lagi sangat menginginkan ina, kenapa saat aku mencintai ina” willy seperti ingin menghajar Richie dan aku sangat tau saat tangan willy mulai melayang kearah Richie dan membuat Richie terjatuh, aku hanya mampu teriak “akh…” aku melihat kearah kak willy yang aku rasa benar-benar sedang emosi dan aku sangat bisa merasakan itu “kenapa kau mempermainkan aku, saat aku merasa kau udah bisa melupakan Richie dan bisa menjadikan aku seseorang yang bisa menghapus air amtamu saat menangis dan membuatmu nyaman didekatku, tapi sekarang kau malah berlaku egois terhadap aku,egh…gh…”willy tertawa seakan mengejek aku dan merasa aku adalah wanita paling jahat, baru pertama kali ini aku melihat willy ngak dewasa malah bertingkah seperti anak-anak “iya…aku memang egois, aku memang jahat, tapi awalnya aku merasa aku memang sangat membutuhkanmu dan aku sangat tau hanya kamu yang mampu menutup lukaku terhadap Richie tapi tetap saja aku ngak bisa buat katakan kalau aku ngak butuh Richie, ngak bisa kak” aku menangis didepan willy dan Richie, Richie sesaat itu menatap aku dengan perasaan iba dan willy…”sekarang kamu udah taukan siapa yang mencintaimu tapi kamu ngak pernah sadar dan ngak pernah peduli sama dia” lagi-lagi willy melayangkan pukulan jitunya kearah Richie “maafkan aku wil…maafkan aku” Richie ngak melawan willy mungkin dia sadar kalau memang dia salah “aku juga sebenarnya ingin bilang…ada beberapa saat aku merasakan aku mencintai kak willy walau ngak terlalu lama” kak willy menghentikan bogemannya kearah Richie, dia pun bangkit dan berjalan kearahku “makasih karena kamu mau mencintaiku walaupun hanya sekejap” kak willy memeluk aku dengan eratnya, aku sangat merasakan pelukan yang hangat dari kak willy yang sangat menenangkan aku, hera dan yui sesaat itu meninggalkan kami hanya bertiga “kak willy melepaskan pelukannya dan berjalan kearah Richie dan mengulurkan tangannya dan menarik Richie untuk berdiri sesaat itu senyumku kembali merekah “maafkan atas tadi sikap aku yang kasar sama kamu” willy memeluk Richie dan itu membuat aku cukup tenang. “ya udah aku harap kejadian ini ngak akan terulang kembali dan aku harap ina tetaplah jadi ina yang selalu tersenyum saat kak willy hendak berlalu “kak willy…” jeritku menghentikan langkahnya dan saat itu aku mencium pipinya tanda terimakasihku padanya
Sekarang aku dan Richie tinggal berdua sesaat setelah yui, hera dan kak willy meninggalkan kami “hmmm sekarang gimana” tanyaku dengan sedikit leluconku, sambil bersikap sedikit cuek kearah dia “aku akan berubah buatmu” Richie mengusap rambutku dengan lembutnya “aku ngak pernah ingin kak Richie berubah, yang aku inginkan kak Richie yang sama dan ngak pernah berubah apalagi dari hatiku” aku tersenyum kearahnya dan membuat dia tersenyum kearahku sambil memeluk aku “kenapa ngak manggil aku sayang sama seperti kamu manggil willy he…he bercanda” Richie masih dengan kemanjaaannya memeluk aku “malas akh…aku manggil kamu, my lovely aja…he…e” aku tertawa kearahnya dan membuat dia merasa kalau aku saat itu seperti anak-anak “aku ingin kamu bilang…” belum sempat aku menyambung kata-kataku lalu “AKU CINTA KAMU” aku terpanah saat Richie mengatakan itu, yang aku harapkan bahwa malam ini aku dan Richie habiskan dengan berdua tanpa harus dihentikan oleh waktu “aku juga cinta sama kamu” aku memeluk erat Richie dan merasakan hangatnya dekapan pelukannya “ maafkan aku udah pernah menyakiti kamu, aku janji aku ngak akan melakukan hal itu lagi buat aku ina bukan yang harus ditunggu untuk aku mengatakan cinta, ya sekalipun ngak harus tiap hari aku bilang cinta tapi paling ngak aku akan buktikan kalau aku memang benar-benar sayang sama ina” Richie membelai lembut rambutku sambil mencium keningku “maafkan aku yang pernah membuat Richie merasa bersalah ya…aku cinta sama Richie” aku kembali tersenyum, ngak seperti hari-hari kemarin aku tersenyum hanya sekedar saja kali ini aku tersenyum dengan perasaan yang benar-benar dari hatiku walaupun saat ini hari bukanlah hari yang romantis tapi aku sangat merasa aku saat ini adalah orang yang paling bahagia <makasih Tuhan karena mu aku bisa mencintai orang yang mencintaiku walaupun awalnya bukanlah terindah tapi yang jelas aku bisa merasakan saat-saat seperti ini bersama orang yang memang aku harapkan. Aku dan Richie berjalan menuju parkir tempat motor Richie dan satu hal yang sangat aku sukai dari kejadian ini aku bisa mendengar langsung orang yang aku sayangi mengatakan cinta sama aku.
Namaku, Sefina Erinta, aku punya mama dan papa yang sangat sempurna yang dikirimkan oleh TUHAN uuntuk menyayangiku dan aku diberikan teman-teman <hera aditya, yui amari> yang sangat mengeerti dan perhatian keaku. Dan satu lagi, aku bersyukur pada TUHAN karena sudah mengirimkan Richie padaku untuk memenuhi hidupku.

NB: tau ngak sih ternyata chinta ngak pernah kelihatan karena dia udah pindah sekolah buat melupakan Richie, tapi sekarang aku cukup lega karena dia sudah punya gebetan baru
NB: dan kak willy ternyata terjangkit virus cintanya hera sicwe dewasa sesaat setelah meninggalkan kami berdua ditempat janjian saat itu sedangkan yui, dia lagi PDKT sama sepupunya hera yang ternyata mereka sering telfon-telfonan dan kirim email.
Yakin aja setiap Ending kehidupan akan berakhir dengan kebahagiaan, apalagi untuk urusan percintaan Tuhan akan menunjukkan seseorang yang tepat padamu sekalipun pada waktu yang ngak kamu harapkan dengan moment yang tak pernah terduga. Karena siapapun, kapanpun dan dimanapun Cinta itu akan datang dan akan tinggal didekatmu.
Tunggu aja ya cerita ke III Ku akan segera muncul deh
Dear   : F. DINA OKTALIA
08-10-1988

Tidak ada komentar:

Posting Komentar