“huammm…”, hari pertama ngajar
disalah satu sekolah swasta. Aku diminta mengajar disekolah itu walaupun aku
sudah mengajar disalah satu sekolah milik pemerintah. Aku mengawali hari ini
dengan senyumanku dan aku melihat pagi yang menyapaku dengan indahnya. Kulihat
diriku yang udah benar-benar Ok, seperti biasa prinsipku sebagai seorang Guru,
Guru itu harus keren.
“selamat pagi semua”, aku memberi
sapaan pertama pada kelas XI yang sedang aku masuki “anak-anak, ibu ini akan
mengajarkan mata pelajaran kimia pada kalian” salah satu guru pembimbing yang
berada disampingku memperkenalkan aku dan aku hanya memberikan senyumanku. Guru
pembimbing itu meninggalkan aku untuk bisa menguasai kelas. “perkenalkan nama
saya f. dina, saya disini akan mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan
bidang yang saya kuasai yaitu kimia”, saya mulai memperkenalkan diri pada
mereka. Dan hari itu saya hanya membiarkan menjadi hari dimana mereka lebih
mengenal saya.
‘hmmm…’ sesekali aku menghela
nafasku karena harus memikirkan dua sekolah sekaligus yang akan saya ajari. Aku
menelusuri beberapa ruangan dan mengingat-ingat tiap sisi sekolah, tanpa
sengaja aku mengarah kearah lapangan basket dan aku melihat ada beberapa siswa
yang sedang bermain basket. Tiba-tiba sebuah mata mengarah kearahku dan saat
itu pula aku mencoba untuk menghindari tatapan mata itu dan berjalan
meninggalkan lapangan menuju ruang guru.
“ibu dina…ibu dina”, beberapa
siswaku memanggil namaku dan mendekat kearahku “ya sayang…”, aku mencoba
bersikap lebih ramah pada mereka “bu…tadi lupa nanya alamat rumah ibu”, mereka
senyum-senyum dan seolah ingin mendapat sambutan hangat dariku. “ooo..ok ini
alamat ibu”, aku memberitau mereka alamat lengkapku.
Ngak terasa sudah hampir satu bulan
aku mengajar didua tempat dan harus mengatur jadwal dengan seteliti mungkin.
Capek, lelah.. itu memang yang sangat aku rasakan saat ini. Tapi semua tak
berarti saat aku melihat anak-anak kecil yang aku ajari. Aku terus berjalan
menuju gerbang sekolah dan tiba-tiba “siang bu…”, seorang siswa menyapaku
dengan ramahnya “siang…”, aku mencoba membalas keramahannya “ibu mau saya
antar” tanya siswa cwo tersebut tanpa membuka helmnya, aku sangat kaget atas
ajakannya dan mencoba mengambil sikap yang benar “ngak usah terima kasih, saya
bisa pulang naik angkot saja”, aku tersenyum kearahnya dan sesaat itu pula dia
berlalu dariku setelah berpamitan. Setelah ini aku pun harus mengajar disalah
satu rumah siswaku tempat aku mengajar disekolah negeri. “ibu….”, siswaku itu
mempersilahkan aku masuk dan membukakan pintu gerbang rumahnya <aku baru
seminggu mengajarnya>, aku sedikit terkejut karena seperti merasa pernah
melihat kendaraan yang ada didepanku. “kereta siapa itu sayang”, tanyaku dengan
sedikit hati-hati “ooo…itu kereta abang bu” aku masih sangat mengawasi kereta
itu hingga memasuki rumahnya.
Akhirnya selesai juga hari ini, aku
menghela nafas sedikit lega setelah selesai mengajar ena. “ibu..pulang naik
apa?” tanya enna padaku “naik angkot nak” aku menjawab pertanyaannya sambil
membenahi tasku. “aku suruh abang ngantar ibu ya” enna tersenyum kearahku dan
dengan cepat aku hanya menjawab “ngak usah enna, ibu pulang naik angkot aja”,
aku pun memberikan senyumku “ngak bu, hari ini abang ngak sibuk jadi enna suruh
ngantar ibu aja ya” dia menarik-narik tanganku dan berharap aku mengiyakan
ajakannya. Aku pun hanya terdiam. Ngak lama aku harus menunggu ternyata enna
sudah membawa abangnya kehadapanku. Aku memperhatikan dia dengan hati-hati.
“malam bu…”, dia menyapa aku dengan kecuekannya “maaf ya bu tadi agak lama,
bang andre seh susah banget”, enna tersenyum padaku dan sesekali menyenggol
abangnya “oya, ngak apa-apa” aku pun hanya tersenyum “bu…bang andre ini sekolah
diSMA Swasta Brahma loh bu”, aku sedikit terkejut saat tau bahwa abang yang
dimaksud enna ini masih SMA “ibu juga ngajar disitu enna” enna sedikit
membelalakan matanya kearahku setelah aku mengatakan hal itu “jadi kamu kelas
berapa nak”, tanyaku pada andre “saya kelas XII IPA bu” andre yang masih dengan
kecuekannya menjawab pertanyaanku dengan singkatnya. “ya uda bang antar bu
dina, alnya dah kemaleman ntar bu dina dimarahi lagi” enna mendorong-dorong
andre kearahku dan aku hanya tersenyum.
Sesampainya dikos-kosan aku melihat
suasana kos yang cukup rame dan saat itu pula teman-temanku yang lebay langsung
bersorak “cie…sapa tuh din/kak din, kenalin donk”, aku hanya mencoba supaya
tenang “ooo…ini siswaku, namanya, hmmm…sapa nak?” tanyaku sambil mencoba
mengingat namanya “andre bu” dia menjawabnya dengan sangat cepat “o iya andre”,
aku mengulangi menyebut namanya. Lalu setelah itu andre langsung pamitan
pulang. ‘akh hmm…’, lagi-lagi aku mencoba menghela nafas kelegaanku buat hari
ini yang mampu aku lewati.
Hari-hari ini makin menyenangkan
kurasa. Tapi aku sedikit segan karena perubahan andre yang sedikit aneh. Dia
jadi sering pulang bareng aku dengan alasan sama-sama mau kerumahnya buat aku
mengajar adiknya. Satu persatu para siswa jadi semakin aneh melihatku karena
sebenarnya andre salah satu cwo yang diidolakan disekolah itu dan hebatnya lagi
aku dengar dari beberapa siswa, akulah cwe pertama yang menaiki keretanya
andre. Setiap hari aku merasa andre jadi sosok cwo yang bukan hanya sekedar
jadi siswaku. Hampir tiap hari dia mengantar dan menjemput aku kerumahnya dan
hampir tiap hari pula andre mengajak aku makan bareng dia walaupun hanya
sekedar diwarung kecil.
Perubahan andre semakin hari semakin
membuat hal yang berdampak negatif dengan suasana sekolah tempat aku mengajar
sekarang. Aku seakan dilihat seperti makhluk yang sangat aneh yang baru
memasuki sekolah itu. Aku pun memberanikan diri bertanya pada beberapa siswa
yang cukup dekat denganku dan tidak mengambil pusing dengan masalah yang
terjadi. Aku pun akhirnya tau perubahan yang terjadi disekolah itu disebabkan
karena aku dan andre sering pulang bareng. Hingga masalah ini didengar oleh
andre dan menjadi topik yang cukup hangat dikalangan para guru dan bahkan
seluruh makhluk yang ada disekolah.
Aku pun mulai menjaga jarak dengan
andre dan akhirnya menyebabkan andre menjadi salah sangka akan perubahan sikap
yang terjadi denganku. “bu…pulang bareng lagikan”, sesaat setelah andre
mengatakan itu padaku beberapa siswa dan guru yang saat itu berpapasan denganku
melihat sinis kearahku. “ngak usah nak, ibu pulang mau naek angkot saja karena
sudah ada janji mau ketempat saudara”, aku mencoba memberi alasan yang cukup
baik ke andre “ya udah, andre antar bu”, andre masih bersikeras mau mengantar
aku dan aku hanya menggelengkan kepala dan mencoba lebih menjauh darinya hingga
aku menemukan angkot yang hendak aku naiki. Aku jadi cukup merasa bersalah atas
sikap yang aku tujukan pada andre. Kenapa aku harus jadi seperti ini, terlalu
menyikapi serius akan gosip-gosip yang beredar, aku jadi merasa bersalah pada
andre.
Pagi yang cukup cerah dan aku
berharap hariku akan seindah pagi ini. Saat aku keluar dari kamarku, aku
terkejut saat tau seseorang diluar yang sedang melepas helmnya adalah andre
“bu…aku pergi bareng ibu ya”, aku memelototkan mataku tanda tak percaya, saat
itu pula adik dan teman kosku ikutan kaget melihat kedatangan andre yang
membuat mereka seakan ngak percaya. Aku pun hanya bisa terpaku. Karena tak
mampu mengelak dari ajakan andre akupun akhirnya hanya menganggukkan kepalaku
dan saat itu seakan seperti kena hipnotis apalagi andre kelihatan senang banget
dan tersenyum kearahku. Sesampainya disekolah beberapa guru yang sedang piket
memperhatikan aku dan andre dengan sangat tajam. “ibu turun disini aja ya” aku
pun menyuruh andre buat berhenti. Sepanjang perjalanan beberapa mata melihat
aku dengan sinisnya dan aku pun mencoba untuk cuek dan beranggapan tidak
terjadi apa-apa.
Selama
proses belajar mengajar berlangsung,
aku sangat terganggu dengan beberapa siswa yang melihat aku dengan ganasnya dan
seakan sangat membenci aku. “ok..baiklah sampai disini pertemuan kita”
tiba-tiba beberapa siswa sangat senang saat aku mengucapkan kata itu. Aku hanya
mampu tersenyum dan menganggap tidak
terjadi apapun.
Diruang guru, ada beberapa
guru yang sedang menggosip ~plis deh, masa iya suka sama siswa seh, secara
diakan guru~ beberapa mata mengarah kearahku. Aku berjalan dan bertanya pada
guru yang cukup dekat denganku ‘ada apa seh’ aku berbisik kearahnya ‘ibu
digosipin naksir ama siswa kita yang kelas XII’ dia balik menjawab, ‘whatz’ aku
hampir keceplosan ‘thanx buat infonya, aku pergi dulu ya’ aku pamitan dari ibu
ella yang termasuk dekat denganku.
Dengan cepat aku melaporkan
pada kepala sekolah yang ternyata ada beberapa guru yang hobby menggosip sedang
berbicara dengan kepala sekolah yang tampaknya wajahnya sedikit mengkerut. Aku
mencoba bersikap biasa melihat kearah mereka yang sesekali berbisik memekakkan
telingaku <padahal masih guru baru, lagipula masa naksirnya sama siswa
seh>. “permisi pak ada yang ingin saya katakan” aku berjalan mengarah
Kepala sekolah, “silahkan duduk ibu dina saya juga ingin bertanya langsung pada
anda” keseeriusan kepala sekolah membuat aku semakin kikuk dan tak karuan
“boleh kita bicara berdua saja pak” aku melirik kearah guru2 yang usil dan yang
memang tak pantas mendengarkan apa yang hendak kami bicarakan, akhirnya para
siluman gosip menghilang dari pandanganku dan suasana tegang pun terjadi aku
tak mampu bersikap relax melihat wajah kepala sekolah yang mulai mengetat.
“begini bu dina…. Sebelum Kepala sekolah meneruskan aku membuka bicara “maaf pak
atas kelancangan saya memotong kata2 bapak, saya sudah mendengar berita yang
lagi membuat suasana sekolah tidak baik dan itu juga mengganggu saya, saya
duduk dan menghadap bapak saat ini dikarenakan saya ingin mengatakan kalau saya
sebagai guru dan andre sebagai siswa saya sekaligus abang dari siswa private
saya enna natasya” aku menghentikan kata-kataku sambil menghela nafas. Kepala
sekolah melihat kearahku dan kupikir dia mulai berfikir “jadi berita yang
mengusik itu tidak benar” kepala sekolah menegaskan “menurut bapak apakah
diusia saya dan dilihat dari pekerjaan saya, saya pantas menggoda andre,
sekalipun andre suka sama saya itu hal yang wajar dari sekedar mengagumi
gurunya dan saya rasa itu pantas” aku melihat kearah pak kepala sekolah memberi
penegasan. “baik bu dina saya rasa jawaban anda masuk akal sekali pantas saja
kepala sekolah SMA N 389 memberi rekomendasi anda untuk mengajar disini, saya
bisa pastikan hal ini tidak akan menjadi bahan usikan buat anda” akupun
menjabat tangan kepala sekolah sambil tersenyum dan “Terimakasih Pak”.
Setelah pertemuanku dengan
kepala sekolah akhirnya suasana sekolah kembali kesediakala ya walaupun tidak
seluruhnya, masih ada yang tetap penasaran, “hai… bu…” aku terkejut disebelahku
sudah duduk andre saat aku diperpustakaan “iya andre” aku tersenyum membalas
dan kusibukkan tetap dengan membaca buku yang ada ditanganku “maaf membuat ibu
jadi bahan gosip tapi itu…” aku memotong kata2nya sambil tersenyum “ngak ada
masalah lagi kok saya sudah tak merasa apapun, jadi tak perlu hiraukan saya,
kalau boleh bersikap biasa saja ya nak” aku berlalu dari bangkuku yang
bersebelahan dengan andre. Dan kurasa dia hanya terdiam.
“bu
dina aku antar kerumah ya, hari ini ngajar enna kan?” andre menawarkan
tumpangan padaku, “ngak usah ndre ibu naik angkot saja, tuh angkotnya” aku
berlalu dari hadapan andre tanpa melihat kearahnya. Aku ngak boleh begini
terus, oo Tuhan apa yang harus kulakukan, berhadapan dengan andre dirumahnya
membuat aku sangat risih. Sepanjang perjalanan otakku tak berhenti berfikir
“minggir bang” adehhh… banar-benar uda kelewatan akibat melamun. Aku menghela
nafasku seakan banyak banget derita yang terjadi saat ini padaku. “bu dina…”
teriak enna kearahku, aku tak melihat motor andre diteras rumah “iya enna” aku
tersenyum tapi masih dengan kewaspadaan. “kamu sendiri” tanyaku sedikit membuat
enna agak binggung “iya bu, mama sama papa pergi kerumah om” jawab enna tapi
aku belum puas dengan penjelasannya “ehmm… andre?” tanyaku hati-hati agar tak
membuat enna curiga. “ooo bang andre ntahlah bu, dari tadi belum ada lihat”
jelas enna padaku dan membuat aku benar-benar penasaran kemana anak itu pergi
sampai ngak pulang. Aku asyik mengajari enna sambil ketawa-ketiwi, tanpa kami
sadari sebuah suara membuat kami terkejut “senang banget sepertinya, kayak
dunia ini ngak ada beban ya” kami sama-sama melihat kearah suara yang tak lain
adalah andre “abang, kok baru pulang” enna menanyakan hal yang tepat pada
andre, wait… apa yang terjadi padaku kenapa aku ingin tau tentang dia pulang
dari mana, isss… kusingkirkan jauh-jauh fikiranku. “ada yang ganggu fikiran
abang neh” aku melihat kearah andre “iss… sok keren banget tau, apa?” aku pun
jadi ikut-ikutan penasaran “bukan apa, tapi siapa…” andre berlalu dari kami
“apa seh abang neh, aneh” aku melihat kearah enna yang kelihatan sangat
penasaran. Aku pun pamitan buat pulang keenna “bu diantar bang andre ya” enna
menanyakan padaku “ngak us…” belum sempat aku menjawab dia sudah berlari kearah
kamar andre. Ngak butuh waktu lama, aku sudah lihat andre keluar dengan enna
“ok, ayo” isss… sok keren banget neh anak, dia fikir aku sebayanya apa, aku
hanya bisa tersenyum (sebenarnya ini karena aku lihat senyum andre yang
sangat menawan, hadehhh… kenapa pulak aku jadi terhanyut dengan perasaanku, whatzzz…perasaan,
ngak benar neh, ngak benar). “abang pergi dulu ya dek, abis ngantar ibu ini
mungkin abang agak lama pulang” aku melihat kearah andre penuh kecurigaan.
“kita
mau kemana?” tanyaku pada andre yang hanya diam saja. Sampai motornya berhenti
disebuah tempat makan “belum makan kan” tanyanya padaku seperti aku ini
pacarnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku (hadeehhh… kenapa jadi aku yang
grogi ya). Lalu kami masuk kedalam restoran dan andre mengambil tempat yang
memojok. “kita ngapain disini ndre?” tanyaku dan aku sangat tau siapapun yang
ngelihat aku saat ini mereka tau aku grogi, “makanlah bu, masa iya nyuci” andre
senyum kecil kearahku, aku pun benar-benar kewalahan. Akhirnya makanan dipesan
dan aku tau pasti ditunggu lama soalnya ramai banget neh tempat makan. Dan…
andre melihatku o God, dia terus melihat kearahku “kamu ngapain andre?” tanyaku
hati-hati “ngelihatin ibu” jawaban yang sangat jujur dan aku ngak tau apakah
aku harus senang atau marah “ngapain ngelihatin saya” tanyaku lagi tapi tanpa
melihat kearahnya “aku berharap orang yang kulihat ini mau jadi pacarku”
pengakuan andre membuat aku… dup…jantungku seakan mau copot “andre… maksud kamu
apa nak?” aku kali ini memberanikan diriku melihat kearahnya “nah gitu dunk,
kan aku bisa lihatin terus” andre sepertinya sengaja menggodaku, ok kalau
begitu aku buat balik dia GR. “kenapa manis banget ya” aku melihat
kearahnya terus menerus, mampus kau kan gantian sekarang, batinku
melihat kearah dia penuh kemenangan “manis, dan aku suka” aku terdiam mendengar
kata-kata andre. Ngak kusangka dia bakalan mengatakan hal itu. “memangnya kalau
saya manis kenapa?” pancingku tapi dengan ketakutan “aku mau ibu jadi pacarku”
pengakuan andre membuat aku ngak keruan, aku… o Tuhan aku kok jadi seperti
ini? Karena aku udah kepalang tanggung aku pun… “kalau saya menolak kamu
mau apa? Kalau saya terima kamu mau apa?” tanyaku dengan keberanianku yang
tersisa.”yang mana yang mau kujawab, kalau ibu mau jadi pacarku atau kalau ibu
menolak?” andre mendekatkan wajahnya kearahku, aku yang sempat menjauh dari dia
karena kaget akhirnya memberanikan diriku menjawab “keduanya” aku mengalihkan
pandanganku “aku akan jawab kalau ibu jadi pacarku karena aku ngak berharap ibu
menolakku, kalau ibu jadi pacarku, maka aku akan membuat ibu selalu bahagia
dekatku” kata-kata andre barusan benar-benar membuatku hampir mati dan
untungnya pesanan kami sudah sampai “saya lapar, kita makan dulu” aku memegang
sendok yang ada didepanku. Andre hanya tersenyum, dan dia meminta aku
mendekatkan makanannya. “selesai makan penawaranku masih berlaku bu, maaf kalau
ibu ngak menyukai caraku, mari makan” aku hanya memasukkan makanan itu
kemulutku tanpa nafsu makan yang besar karena uda dibuat andre menghilang.
Selama makan kami hanya saling diam tapi sesekali andre melihat kearahku dan
aku hanya meliriknya. Ntah apa yang dipikirkan anak satu ini, isss… “ada
yang mau dipesan lagi bu?” tanya andre tiba-tiba membuyarkan lamunanku “nga,
udah cukup” kulihat andre dan senyumnya. Aduh… kenapa aku jadi gini ya. “kalau
ibu masi bimbang dengan pernyataanku dan masih sulit buat menjawab, nga apa2
kok, kita kan boleh PDKT” hukh..hukh… air yang masih nyangkut ditenggorokanku
akhirnya nyerempet keluar juga kehidungku. Aku melihat kearah andre yang aku
sangat tau dia masih nyaman dengan keadaan stay coolnya, aku pun menghela
nafasku cukup dalam, dia lalu menyodorkan tissu dan air buatku, “tissu bu dan
neh minum dulu” aku hanya melihat kearahnya dan diam sejenak “andre…” belum
sempat aku melanjut kata-kataku andre langsung nyosor aja “iya bu” dia melihat
kearahku (aku tak pungkiri wajah tampan yang dimiliki anak ini mampu membuat
hati hampir semua wanita pasti akan luluh, tapi keadaannya bukan seperti ini,
No… ngak din, ngak, ini ngak bisa terjadi) gumanku saat aku melihat kearah
andre, ntahlah aku pun tak tau berapa kali aku menghela nafasku karena anak
neh. “andre, ibu rasa kamu sudah salah menempatkan perasaanmu pada ibu, ibu
senang kamu simpatik pada ibu, tapi bukan begini caranya” aku harap dia
mengerti dengan kata-kataku yang tak jelas maknanya hendak kemana. “ok. Jadi
intinya ibu menolak saya” andre sekarang asyik memainkan gelas yang ada
didepannya dengan jarinya “iya…” jawabku dengan pasti. Andre menatap aku dengan
sengat serius, dia seakan ingin menerkamku. “ok… aku janji sama ibu, ngak akan
ganggu ibu lagi, makasih buat penolakannya” ntah apa yang dipikirkan anak yang
satu ini “tapi kamu ngak ninggalin ibu ditempat ini kan” aku melihat
sekelilingku yang cukup sepi “ngak kok, aku ngak sekejam itu, aku antar ibu
sampai rumah, walaupun aku masih kecil dimata ibu tapi aku tetaplah pria yang
harus gentle” wui… kata-katanya membuat bulu romaku merinding “makasih, ibu
harap kamu dapat wanita yang baik ya” aku melihat kearahnya “ibu ngak perlu
bilang seperti itu, aku ngerti buat hal itu, tapi ya udah deh, makasih” andre
dan kecuekannya, yah… kuharap ini akan baik-baik saja.
Selama
perjalanan pulang, aku masih seperti biasa, memegang jok belakang dan kami
hanya diam membisu. Aku tak berharap melihat kearah wajahnya, yang aku pikir
saat ini pasti marah.
Akhirnya
sampai rumah dan sebelum andre pergi tiba-tiba dia berbalik kearahku “ada yang
mau kuberikan, ini kuambil diam-diam” dia memberikan selembar fotoku saat
melamar yang aku rasa itu terjatuh saat itu “yups… saat terjatuh waktu itu, aku
kurang ingat kapan tepatnya, foto ini aku simpan” kulihat kearahnya dan aku
mencoba tidak terhipnotis dengan keadaan saat ini “ya udah, makasih ya udah
disimpankan” aku mengambil foto itu. Kudengar dia mendesah kesal saat aku
membalikkan wajahku “met malam bu dina” masih kudengar suara kecilnya mengucapkan
selamat malam padaku (selamat malam andre).
Aku
berharap hari ini aku tak mengalami hal yang tak aku harapkan. Hmmm… sepertinya
tak ada yang perlu aku risaukan, keadaan sekolah sangat aman terkendali.
Kulihat lagi sekelilingku, tiba-tiba mataku tertuju pada sesosok tubuh tinggi
yang sangat aku kenal, (andre…). Aku melihat kearahnya, tapi dia memalingkan
tatapannya dari diriku. Aku pun mencoba membuang jauh tatapanku darinya. Tapi
ntah apa yang terjadi pada perasaanku saat aku lihat dia dengan beberapa siswa
cwo dan yups cwe. Oh.no aku cemburu. Aku mempercepat jalanku.
Aku
mencoba buat melupakan perasaanku yang aneh dan salah ini. Aku cukup lihai
untuk menutup perasaanku ini. Aku pun mengajar dengan sangat baik. Dan kelas
yang kuajar menjadi sangat aman dan nyaman.
Pulang
sekolah dan aku bernafas dengan leganya, hari yang benar-benar indah. Saat aku
hendak pulang kulihat motor yang dinaiki oleh andre sudah berganti. Dan tunggu
dulu apa yang kulihat, andre goncengan dengan orang lain, shittt…aku
cemburu, ngak…ngak mungkin…fikirku. Aku mencoba menetralkan fikiranku agar
tak terbawa suasana. Tin…tinnn… suara klakson mobil tepat didepanku mengalihkan
lamunanku, kulihat mobil dan sipengendara “hai…”aku mencoba mengingat sosok
lelaki yang ada didalam mobil. “mike…”aku tersenyum pada cwo yang sekarang
keluar dari mobil dan menghampiriku. “hai…dina”aku memberikan senyum
terhangatku padanya. Beberapa guru dan siswa melihat kearahku dan ada beberapa
yang berbisik ~itu pacarnya bu dina, cakep ya~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar