Selasa, 28 Oktober 2014

Aku dan ceritaku




KAU DAN CERITAKU
            “huammm…”, hari pertama ngajar disalah satu sekolah swasta. Aku diminta mengajar disekolah itu walaupun aku sudah mengajar disalah satu sekolah milik pemerintah. Aku mengawali hari ini dengan senyumanku dan aku melihat pagi yang menyapaku dengan indahnya. Kulihat diriku yang udah benar-benar Ok, seperti biasa prinsipku sebagai seorang Guru, Guru itu harus keren.
            “selamat pagi semua”, aku memberi sapaan pertama pada kelas XI yang sedang aku masuki “anak-anak, ibu ini akan mengajarkan mata pelajaran kimia pada kalian” salah satu guru pembimbing yang berada disampingku memperkenalkan aku dan aku hanya memberikan senyumanku. Guru pembimbing itu meninggalkan aku untuk bisa menguasai kelas. “perkenalkan nama saya f. dina, saya disini akan mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan bidang yang saya kuasai yaitu kimia”, saya mulai memperkenalkan diri pada mereka. Dan hari itu saya hanya membiarkan menjadi hari dimana mereka lebih mengenal saya.
            ‘hmmm…’ sesekali aku menghela nafasku karena harus memikirkan dua sekolah sekaligus yang akan saya ajari. Aku menelusuri beberapa ruangan dan mengingat-ingat tiap sisi sekolah, tanpa sengaja aku mengarah kearah lapangan basket dan aku melihat ada beberapa siswa yang sedang bermain basket. Tiba-tiba sebuah mata mengarah kearahku dan saat itu pula aku mencoba untuk menghindari tatapan mata itu dan berjalan meninggalkan lapangan menuju ruang guru.
            “ibu dina…ibu dina”, beberapa siswaku memanggil namaku dan mendekat kearahku “ya sayang…”, aku mencoba bersikap lebih ramah pada mereka “bu…tadi lupa nanya alamat rumah ibu”, mereka senyum-senyum dan seolah ingin mendapat sambutan hangat dariku. “ooo..ok ini alamat ibu”, aku memberitau mereka alamat lengkapku.
            Ngak terasa sudah hampir satu bulan aku mengajar didua tempat dan harus mengatur jadwal dengan seteliti mungkin. Capek, lelah.. itu memang yang sangat aku rasakan saat ini. Tapi semua tak berarti saat aku melihat anak-anak kecil yang aku ajari. Aku terus berjalan menuju gerbang sekolah dan tiba-tiba “siang bu…”, seorang siswa menyapaku dengan ramahnya “siang…”, aku mencoba membalas keramahannya “ibu mau saya antar” tanya siswa cwo tersebut tanpa membuka helmnya, aku sangat kaget atas ajakannya dan mencoba mengambil sikap yang benar “ngak usah terima kasih, saya bisa pulang naik angkot saja”, aku tersenyum kearahnya dan sesaat itu pula dia berlalu dariku setelah berpamitan. Setelah ini aku pun harus mengajar disalah satu rumah siswaku tempat aku mengajar disekolah negeri. “ibu….”, siswaku itu mempersilahkan aku masuk dan membukakan pintu gerbang rumahnya <aku baru seminggu mengajarnya>, aku sedikit terkejut karena seperti merasa pernah melihat kendaraan yang ada didepanku. “kereta siapa itu sayang”, tanyaku dengan sedikit hati-hati “ooo…itu kereta abang bu” aku masih sangat mengawasi kereta itu hingga memasuki rumahnya.
            Akhirnya selesai juga hari ini, aku menghela nafas sedikit lega setelah selesai mengajar ena. “ibu..pulang naik apa?” tanya enna padaku “naik angkot nak” aku menjawab pertanyaannya sambil membenahi tasku. “aku suruh abang ngantar ibu ya” enna tersenyum kearahku dan dengan cepat aku hanya menjawab “ngak usah enna, ibu pulang naik angkot aja”, aku pun memberikan senyumku “ngak bu, hari ini abang ngak sibuk jadi enna suruh ngantar ibu aja ya” dia menarik-narik tanganku dan berharap aku mengiyakan ajakannya. Aku pun hanya terdiam. Ngak lama aku harus menunggu ternyata enna sudah membawa abangnya kehadapanku. Aku memperhatikan dia dengan hati-hati. “malam bu…”, dia menyapa aku dengan kecuekannya “maaf ya bu tadi agak lama, bang andre seh susah banget”, enna tersenyum padaku dan sesekali menyenggol abangnya “oya, ngak apa-apa” aku pun hanya tersenyum “bu…bang andre ini sekolah diSMA Swasta Brahma loh bu”, aku sedikit terkejut saat tau bahwa abang yang dimaksud enna ini masih SMA “ibu juga ngajar disitu enna” enna sedikit membelalakan matanya kearahku setelah aku mengatakan hal itu “jadi kamu kelas berapa nak”, tanyaku pada andre “saya kelas XII IPA bu” andre yang masih dengan kecuekannya menjawab pertanyaanku dengan singkatnya. “ya uda bang antar bu dina, alnya dah kemaleman ntar bu dina dimarahi lagi” enna mendorong-dorong andre kearahku dan aku hanya tersenyum.
            Sesampainya dikos-kosan aku melihat suasana kos yang cukup rame dan saat itu pula teman-temanku yang lebay langsung bersorak “cie…sapa tuh din/kak din, kenalin donk”, aku hanya mencoba supaya tenang “ooo…ini siswaku, namanya, hmmm…sapa nak?” tanyaku sambil mencoba mengingat namanya “andre bu” dia menjawabnya dengan sangat cepat “o iya andre”, aku mengulangi menyebut namanya. Lalu setelah itu andre langsung pamitan pulang. ‘akh hmm…’, lagi-lagi aku mencoba menghela nafas kelegaanku buat hari ini yang mampu aku lewati.
            Hari-hari ini makin menyenangkan kurasa. Tapi aku sedikit segan karena perubahan andre yang sedikit aneh. Dia jadi sering pulang bareng aku dengan alasan sama-sama mau kerumahnya buat aku mengajar adiknya. Satu persatu para siswa jadi semakin aneh melihatku karena sebenarnya andre salah satu cwo yang diidolakan disekolah itu dan hebatnya lagi aku dengar dari beberapa siswa, akulah cwe pertama yang menaiki keretanya andre. Setiap hari aku merasa andre jadi sosok cwo yang bukan hanya sekedar jadi siswaku. Hampir tiap hari dia mengantar dan menjemput aku kerumahnya dan hampir tiap hari pula andre mengajak aku makan bareng dia walaupun hanya sekedar diwarung kecil.
            Perubahan andre semakin hari semakin membuat hal yang berdampak negatif dengan suasana sekolah tempat aku mengajar sekarang. Aku seakan dilihat seperti makhluk yang sangat aneh yang baru memasuki sekolah itu. Aku pun memberanikan diri bertanya pada beberapa siswa yang cukup dekat denganku dan tidak mengambil pusing dengan masalah yang terjadi. Aku pun akhirnya tau perubahan yang terjadi disekolah itu disebabkan karena aku dan andre sering pulang bareng. Hingga masalah ini didengar oleh andre dan menjadi topik yang cukup hangat dikalangan para guru dan bahkan seluruh makhluk yang ada disekolah.
            Aku pun mulai menjaga jarak dengan andre dan akhirnya menyebabkan andre menjadi salah sangka akan perubahan sikap yang terjadi denganku. “bu…pulang bareng lagikan”, sesaat setelah andre mengatakan itu padaku beberapa siswa dan guru yang saat itu berpapasan denganku melihat sinis kearahku. “ngak usah nak, ibu pulang mau naek angkot saja karena sudah ada janji mau ketempat saudara”, aku mencoba memberi alasan yang cukup baik ke andre “ya udah, andre antar bu”, andre masih bersikeras mau mengantar aku dan aku hanya menggelengkan kepala dan mencoba lebih menjauh darinya hingga aku menemukan angkot yang hendak aku naiki. Aku jadi cukup merasa bersalah atas sikap yang aku tujukan pada andre. Kenapa aku harus jadi seperti ini, terlalu menyikapi serius akan gosip-gosip yang beredar, aku jadi merasa bersalah pada andre.
            Pagi yang cukup cerah dan aku berharap hariku akan seindah pagi ini. Saat aku keluar dari kamarku, aku terkejut saat tau seseorang diluar yang sedang melepas helmnya adalah andre “bu…aku pergi bareng ibu ya”, aku memelototkan mataku tanda tak percaya, saat itu pula adik dan teman kosku ikutan kaget melihat kedatangan andre yang membuat mereka seakan ngak percaya. Aku pun hanya bisa terpaku. Karena tak mampu mengelak dari ajakan andre akupun akhirnya hanya menganggukkan kepalaku dan saat itu seakan seperti kena hipnotis apalagi andre kelihatan senang banget dan tersenyum kearahku. Sesampainya disekolah beberapa guru yang sedang piket memperhatikan aku dan andre dengan sangat tajam. “ibu turun disini aja ya” aku pun menyuruh andre buat berhenti. Sepanjang perjalanan beberapa mata melihat aku dengan sinisnya dan aku pun mencoba untuk cuek dan beranggapan tidak terjadi apa-apa.
Selama proses belajar mengajar berlangsung, aku sangat terganggu dengan beberapa siswa yang melihat aku dengan ganasnya dan seakan sangat membenci aku. “ok..baiklah sampai disini pertemuan kita” tiba-tiba beberapa siswa sangat senang saat aku mengucapkan kata itu. Aku hanya mampu tersenyum dan menganggap tidak terjadi apapun.
Diruang guru, ada beberapa guru yang sedang menggosip ~plis deh, masa iya suka sama siswa seh, secara diakan guru~ beberapa mata mengarah kearahku. Aku berjalan dan bertanya pada guru yang cukup dekat denganku ‘ada apa seh’ aku berbisik kearahnya ‘ibu digosipin naksir ama siswa kita yang kelas XII’ dia balik menjawab, ‘whatz’ aku hampir keceplosan ‘thanx buat infonya, aku pergi dulu ya’ aku pamitan dari ibu ella yang termasuk dekat denganku.
Dengan cepat aku melaporkan pada kepala sekolah yang ternyata ada beberapa guru yang hobby menggosip sedang berbicara dengan kepala sekolah yang tampaknya wajahnya sedikit mengkerut. Aku mencoba bersikap biasa melihat kearah mereka yang sesekali berbisik memekakkan telingaku <padahal masih guru baru, lagipula masa naksirnya sama siswa seh>. “permisi pak ada yang ingin saya katakan” aku berjalan mengarah Kepala sekolah, “silahkan duduk ibu dina saya juga ingin bertanya langsung pada anda” keseeriusan kepala sekolah membuat aku semakin kikuk dan tak karuan “boleh kita bicara berdua saja pak” aku melirik kearah guru2 yang usil dan yang memang tak pantas mendengarkan apa yang hendak kami bicarakan, akhirnya para siluman gosip menghilang dari pandanganku dan suasana tegang pun terjadi aku tak mampu bersikap relax melihat wajah kepala sekolah yang mulai mengetat. “begini bu dina…. Sebelum Kepala sekolah meneruskan aku membuka bicara “maaf pak atas kelancangan saya memotong kata2 bapak, saya sudah mendengar berita yang lagi membuat suasana sekolah tidak baik dan itu juga mengganggu saya, saya duduk dan menghadap bapak saat ini dikarenakan saya ingin mengatakan kalau saya sebagai guru dan andre sebagai siswa saya sekaligus abang dari siswa private saya enna natasya” aku menghentikan kata-kataku sambil menghela nafas. Kepala sekolah melihat kearahku dan kupikir dia mulai berfikir “jadi berita yang mengusik itu tidak benar” kepala sekolah menegaskan “menurut bapak apakah diusia saya dan dilihat dari pekerjaan saya, saya pantas menggoda andre, sekalipun andre suka sama saya itu hal yang wajar dari sekedar mengagumi gurunya dan saya rasa itu pantas” aku melihat kearah pak kepala sekolah memberi penegasan. “baik bu dina saya rasa jawaban anda masuk akal sekali pantas saja kepala sekolah SMA N 389 memberi rekomendasi anda untuk mengajar disini, saya bisa pastikan hal ini tidak akan menjadi bahan usikan buat anda” akupun menjabat tangan kepala sekolah sambil tersenyum dan “Terimakasih Pak”.
Setelah pertemuanku dengan kepala sekolah akhirnya suasana sekolah kembali kesediakala ya walaupun tidak seluruhnya, masih ada yang tetap penasaran, “hai… bu…” aku terkejut disebelahku sudah duduk andre saat aku diperpustakaan “iya andre” aku tersenyum membalas dan kusibukkan tetap dengan membaca buku yang ada ditanganku “maaf membuat ibu jadi bahan gosip tapi itu…” aku memotong kata2nya sambil tersenyum “ngak ada masalah lagi kok saya sudah tak merasa apapun, jadi tak perlu hiraukan saya, kalau boleh bersikap biasa saja ya nak” aku berlalu dari bangkuku yang bersebelahan dengan andre. Dan kurasa dia hanya terdiam.
“bu dina aku antar kerumah ya, hari ini ngajar enna kan?” andre menawarkan tumpangan padaku, “ngak usah ndre ibu naik angkot saja, tuh angkotnya” aku berlalu dari hadapan andre tanpa melihat kearahnya. Aku ngak boleh begini terus, oo Tuhan apa yang harus kulakukan, berhadapan dengan andre dirumahnya membuat aku sangat risih. Sepanjang perjalanan otakku tak berhenti berfikir “minggir bang” adehhh… banar-benar uda kelewatan akibat melamun. Aku menghela nafasku seakan banyak banget derita yang terjadi saat ini padaku. “bu dina…” teriak enna kearahku, aku tak melihat motor andre diteras rumah “iya enna” aku tersenyum tapi masih dengan kewaspadaan. “kamu sendiri” tanyaku sedikit membuat enna agak binggung “iya bu, mama sama papa pergi kerumah om” jawab enna tapi aku belum puas dengan penjelasannya “ehmm… andre?” tanyaku hati-hati agar tak membuat enna curiga. “ooo bang andre ntahlah bu, dari tadi belum ada lihat” jelas enna padaku dan membuat aku benar-benar penasaran kemana anak itu pergi sampai ngak pulang. Aku asyik mengajari enna sambil ketawa-ketiwi, tanpa kami sadari sebuah suara membuat kami terkejut “senang banget sepertinya, kayak dunia ini ngak ada beban ya” kami sama-sama melihat kearah suara yang tak lain adalah andre “abang, kok baru pulang” enna menanyakan hal yang tepat pada andre, wait… apa yang terjadi padaku kenapa aku ingin tau tentang dia pulang dari mana, isss… kusingkirkan jauh-jauh fikiranku. “ada yang ganggu fikiran abang neh” aku melihat kearah andre “iss… sok keren banget tau, apa?” aku pun jadi ikut-ikutan penasaran “bukan apa, tapi siapa…” andre berlalu dari kami “apa seh abang neh, aneh” aku melihat kearah enna yang kelihatan sangat penasaran. Aku pun pamitan buat pulang keenna “bu diantar bang andre ya” enna menanyakan padaku “ngak us…” belum sempat aku menjawab dia sudah berlari kearah kamar andre. Ngak butuh waktu lama, aku sudah lihat andre keluar dengan enna “ok, ayo” isss… sok keren banget neh anak, dia fikir aku sebayanya apa, aku hanya bisa tersenyum (sebenarnya ini karena aku lihat senyum andre yang sangat menawan, hadehhh… kenapa pulak aku jadi terhanyut dengan perasaanku, whatzzz…perasaan, ngak benar neh, ngak benar). “abang pergi dulu ya dek, abis ngantar ibu ini mungkin abang agak lama pulang” aku melihat kearah andre penuh kecurigaan.
“kita mau kemana?” tanyaku pada andre yang hanya diam saja. Sampai motornya berhenti disebuah tempat makan “belum makan kan” tanyanya padaku seperti aku ini pacarnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku (hadeehhh… kenapa jadi aku yang grogi ya). Lalu kami masuk kedalam restoran dan andre mengambil tempat yang memojok. “kita ngapain disini ndre?” tanyaku dan aku sangat tau siapapun yang ngelihat aku saat ini mereka tau aku grogi, “makanlah bu, masa iya nyuci” andre senyum kecil kearahku, aku pun benar-benar kewalahan. Akhirnya makanan dipesan dan aku tau pasti ditunggu lama soalnya ramai banget neh tempat makan. Dan… andre melihatku o God, dia terus melihat kearahku “kamu ngapain andre?” tanyaku hati-hati “ngelihatin ibu” jawaban yang sangat jujur dan aku ngak tau apakah aku harus senang atau marah “ngapain ngelihatin saya” tanyaku lagi tapi tanpa melihat kearahnya “aku berharap orang yang kulihat ini mau jadi pacarku” pengakuan andre membuat aku… dup…jantungku seakan mau copot “andre… maksud kamu apa nak?” aku kali ini memberanikan diriku melihat kearahnya “nah gitu dunk, kan aku bisa lihatin terus” andre sepertinya sengaja menggodaku, ok kalau begitu aku buat balik dia GR. “kenapa manis banget ya” aku melihat kearahnya terus menerus, mampus kau kan gantian sekarang, batinku melihat kearah dia penuh kemenangan “manis, dan aku suka” aku terdiam mendengar kata-kata andre. Ngak kusangka dia bakalan mengatakan hal itu. “memangnya kalau saya manis kenapa?” pancingku tapi dengan ketakutan “aku mau ibu jadi pacarku” pengakuan andre membuat aku ngak keruan, aku… o Tuhan aku kok jadi seperti ini? Karena aku udah kepalang tanggung aku pun… “kalau saya menolak kamu mau apa? Kalau saya terima kamu mau apa?” tanyaku dengan keberanianku yang tersisa.”yang mana yang mau kujawab, kalau ibu mau jadi pacarku atau kalau ibu menolak?” andre mendekatkan wajahnya kearahku, aku yang sempat menjauh dari dia karena kaget akhirnya memberanikan diriku menjawab “keduanya” aku mengalihkan pandanganku “aku akan jawab kalau ibu jadi pacarku karena aku ngak berharap ibu menolakku, kalau ibu jadi pacarku, maka aku akan membuat ibu selalu bahagia dekatku” kata-kata andre barusan benar-benar membuatku hampir mati dan untungnya pesanan kami sudah sampai “saya lapar, kita makan dulu” aku memegang sendok yang ada didepanku. Andre hanya tersenyum, dan dia meminta aku mendekatkan makanannya. “selesai makan penawaranku masih berlaku bu, maaf kalau ibu ngak menyukai caraku, mari makan” aku hanya memasukkan makanan itu kemulutku tanpa nafsu makan yang besar karena uda dibuat andre menghilang. Selama makan kami hanya saling diam tapi sesekali andre melihat kearahku dan aku hanya meliriknya. Ntah apa yang dipikirkan anak satu ini, isss… “ada yang mau dipesan lagi bu?” tanya andre tiba-tiba membuyarkan lamunanku “nga, udah cukup” kulihat andre dan senyumnya. Aduh… kenapa aku jadi gini ya. “kalau ibu masi bimbang dengan pernyataanku dan masih sulit buat menjawab, nga apa2 kok, kita kan boleh PDKT” hukh..hukh… air yang masih nyangkut ditenggorokanku akhirnya nyerempet keluar juga kehidungku. Aku melihat kearah andre yang aku sangat tau dia masih nyaman dengan keadaan stay coolnya, aku pun menghela nafasku cukup dalam, dia lalu menyodorkan tissu dan air buatku, “tissu bu dan neh minum dulu” aku hanya melihat kearahnya dan diam sejenak “andre…” belum sempat aku melanjut kata-kataku andre langsung nyosor aja “iya bu” dia melihat kearahku (aku tak pungkiri wajah tampan yang dimiliki anak ini mampu membuat hati hampir semua wanita pasti akan luluh, tapi keadaannya bukan seperti ini, No… ngak din, ngak, ini ngak bisa terjadi) gumanku saat aku melihat kearah andre, ntahlah aku pun tak tau berapa kali aku menghela nafasku karena anak neh. “andre, ibu rasa kamu sudah salah menempatkan perasaanmu pada ibu, ibu senang kamu simpatik pada ibu, tapi bukan begini caranya” aku harap dia mengerti dengan kata-kataku yang tak jelas maknanya hendak kemana. “ok. Jadi intinya ibu menolak saya” andre sekarang asyik memainkan gelas yang ada didepannya dengan jarinya “iya…” jawabku dengan pasti. Andre menatap aku dengan sengat serius, dia seakan ingin menerkamku. “ok… aku janji sama ibu, ngak akan ganggu ibu lagi, makasih buat penolakannya” ntah apa yang dipikirkan anak yang satu ini “tapi kamu ngak ninggalin ibu ditempat ini kan” aku melihat sekelilingku yang cukup sepi “ngak kok, aku ngak sekejam itu, aku antar ibu sampai rumah, walaupun aku masih kecil dimata ibu tapi aku tetaplah pria yang harus gentle” wui… kata-katanya membuat bulu romaku merinding “makasih, ibu harap kamu dapat wanita yang baik ya” aku melihat kearahnya “ibu ngak perlu bilang seperti itu, aku ngerti buat hal itu, tapi ya udah deh, makasih” andre dan kecuekannya, yah… kuharap ini akan baik-baik saja.
Selama perjalanan pulang, aku masih seperti biasa, memegang jok belakang dan kami hanya diam membisu. Aku tak berharap melihat kearah wajahnya, yang aku pikir saat ini pasti marah.
Akhirnya sampai rumah dan sebelum andre pergi tiba-tiba dia berbalik kearahku “ada yang mau kuberikan, ini kuambil diam-diam” dia memberikan selembar fotoku saat melamar yang aku rasa itu terjatuh saat itu “yups… saat terjatuh waktu itu, aku kurang ingat kapan tepatnya, foto ini aku simpan” kulihat kearahnya dan aku mencoba tidak terhipnotis dengan keadaan saat ini “ya udah, makasih ya udah disimpankan” aku mengambil foto itu. Kudengar dia mendesah kesal saat aku membalikkan wajahku “met malam bu dina” masih kudengar suara kecilnya mengucapkan selamat malam padaku (selamat malam andre).
Aku berharap hari ini aku tak mengalami hal yang tak aku harapkan. Hmmm… sepertinya tak ada yang perlu aku risaukan, keadaan sekolah sangat aman terkendali. Kulihat lagi sekelilingku, tiba-tiba mataku tertuju pada sesosok tubuh tinggi yang sangat aku kenal, (andre…). Aku melihat kearahnya, tapi dia memalingkan tatapannya dari diriku. Aku pun mencoba membuang jauh tatapanku darinya. Tapi ntah apa yang terjadi pada perasaanku saat aku lihat dia dengan beberapa siswa cwo dan yups cwe. Oh.no aku cemburu. Aku mempercepat jalanku.
Aku mencoba buat melupakan perasaanku yang aneh dan salah ini. Aku cukup lihai untuk menutup perasaanku ini. Aku pun mengajar dengan sangat baik. Dan kelas yang kuajar menjadi sangat aman dan nyaman.
Pulang sekolah dan aku bernafas dengan leganya, hari yang benar-benar indah. Saat aku hendak pulang kulihat motor yang dinaiki oleh andre sudah berganti. Dan tunggu dulu apa yang kulihat, andre goncengan dengan orang lain, shittt…aku cemburu, ngak…ngak mungkin…fikirku. Aku mencoba menetralkan fikiranku agar tak terbawa suasana. Tin…tinnn… suara klakson mobil tepat didepanku mengalihkan lamunanku, kulihat mobil dan sipengendara “hai…”aku mencoba mengingat sosok lelaki yang ada didalam mobil. “mike…”aku tersenyum pada cwo yang sekarang keluar dari mobil dan menghampiriku. “hai…dina”aku memberikan senyum terhangatku padanya. Beberapa guru dan siswa melihat kearahku dan ada beberapa yang berbisik ~itu pacarnya bu dina, cakep ya~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar