KAU DAN CINTAKU
VERSI ANDRE SYAHPUTRA WINATHA
Dilapangan
basket aku asyik mendribeel bola yang ada ditanganku, ya aku harus sedikit
berakting ditengah lapangan maklum saja aku bisa dikatakan cwo paling cool dan
keren seantero sekolah, sedikit PD, but that’s me. Kumainkan bola hingga aku
memasukkan bola itu kedalam keranjangnya, saat aku teriak memberikan ekspresi
senangku kecwe2 alay yang mengagumi aku yang sekarang ada mengelilingi lapangan
basket mataku tertuju pada sosok wanita yang membuat aku tak lepas menatapnya,
wanita cantik yang ada didepan mataku memikat hatiku, kuperhatikan baju yang
digunakannya dan yups high heels yang membedakan antara Guru dan Siswa, berarti
dia Guru baru atau yang tak pernah kusadari ada buat mengajar disekolah kami,
tapi sumpah ini kali pertama aku melihat dia. “andre…andre” teriakan wanita2
alay ini membuyarkan lamunanku dan kulihat wanita itu telah berlalu. Aku
seperti melihat sesuatu yang terjatuh, tanpa disadari makhluk-makhluk yang ada
didekatku saat ini, pelan-pelan aku mengambil yang terjatuh tadi. Hmmm…. Sebuah
gambar lebih tepatnya foto, wajah cantik yang kulihat tadi terlihat jadi gambar
yang kupegang, dengan cepat foto yang kupegang kini masuk kedalam saku
celanaku. Dan aku hanya tersenyum.
Kuhabiskan
sisa waktuku didalam kelas dengan belajar, maklum selain wajahku yang ganteng,
pintar dilapangan basket, aku juga idola bagi guru2 karena kepintaranku, ehmm…
itulah kenyataannya diriku.
Lonceng
menandakan pulang pun berbunyi cepat kuambil motorku dan aku yang daritadi
sedang memikirkan wanita yang ada dipinggir lapangan basket itu ingin
mendahuluinya agar aku bisa memberikan tumpangan buatnya. Kulihat dia sedang
asyik berdiri sendiri yang aku rasa dia sedang menunggu angkot buat
menjemputnya. Kugas motorku tapi tiba2 “hei… whats up bro, ngapain loe, mau
ninggalin gue” seseorang yang sangat kukenal dan tak asing buatku siapa lagi
kalau bukan temanku yang aneh bin ajaib aldi “sorry bro hari ini loe mungkin
numpang yang lain ya dy, bye” aku melajukan motorku dan mengarah kearah wanita
yang sedang berdiri dengan tampang yang menyedihkan itu. “siang bu…”, aku
menyapanya dengan kesopananku “siang…”, dia membalas sapaanku dan membuat aku
senang banget karena dia tersenyum “ibu mau saya antar”, aku menawarkan
tumpangan padanya dan kuharap semua tau jawaban apa yang aku inginkan yups aku
ingin dia angguk2 buat menyetujui tawaranku atau minimal bilang yes. “ngak usah
terima kasih, saya bisa pulang naik angkot saja”, dia tersenyum padaku, tapi
jawabannya membuat aku kesal dan rasanya ufftt ntahlah, seumur2 aku yang selalu
menolak perempuan setiap ingin naik kemotorku ini tapi hari ini seorang wanita
yang bisa kuanggap kakak atau malah tanteku malah menolak tawaranku, oo God.
Tanpa ancang2 aku melajukan motorku dengan cepat. Tak kuhiraukan aldy yang
teriak2 minta aku goncengin.
Welcome
my home sweet home, aku berjalan lemas menuju rumahku setelah kuparkirkan motor
kerenku itu. Aku masih merasakan perasaan yang aneh saat aku melihat ekspresi
wanita yang dipanggil guru itu. Ntah perasaan apa ini tapi seakan aku masih
berusaha untuk membawanya naik kemotor kerenku.
Hanya
tiduran dan baca comiklah kerjaanku dikamar ini, semua menanyakan kepintaranku,
aku pun dulu sangat ragu kenapa aku sangat pintar, ternyata aku menemukan
jawabannya, Tuhan itu adil, Ia menciptakan manusia itu tak sempurna tapi sangat
special salahsatu makhluk Tuhan yang special dan sangat special itu ya aku.
Ngak perlu kan aku menerjemahkan maksud kata2ku.
“bang…
bang andre, antar guruku dunk” teriakan enna membangunkanku seketika. Kalau
dibiarkan lama teriakan enna bisa memecahkan apa saja yang ada disini. Enna
masuk kekamarku dan menarik2 baju dalamanku “apa seh na, abangkan lagi tidur
neh” o iya sebelum lupa, enna adekku satu2nya ingat satu2nya jadi kalau ada ngebahas
tentang adekku yang lain itu diluar kendaliku, ia masih kelas 1 smp dan aku
sangat sayang dia. “ngak abang uda bangun, tuh tadi ngomong, wew… antar guruku
dung” dengan sedikit manja eh ngak deh, banyak manja dia narik2 aku lagi.
Kulihat kearahnya yang unyu2, aku memang ngak sanggup kalau membuat tampang
adekku yang satu2nya itu jadi unyu banget. “iya…iya tapi bolehkan abang ganti
kaos dulu, kan ngak mungkin antar guru enna pake kaos kutang, ngak sopankan”
aku membuat tampang imut2ku kearahnya yang membuat dia seperti mau
muntah,mungkin enek ngelihat aku gitu “uwekk…tampang abang nga usah sok imut
gitu napa, ya udah deh, enna tunggu dipintu cepat…” itulah enna senangnya
memerintah.
Cuma
sebentar saja aku berberes2 ria, kulihat wanita yang sekarang tepat ada
didepanku. Ini namanya Takdir dan kata orang kalau jodoh nga lari kemana “malam
bu…”, aku menyapanya, dia masih kelihatan manis walaupun ya kurasa belum mandi
hampir sama seperti aku, “maaf ya bu tadi agak lama, bang andre seh susah
banget”, enna tersenyum pada gurunya dan sekaligus guruku itu dan sesekali
menyenggol aku “oya, ngak apa-apa” dia pun hanya tersenyum, pantes aja dia
manis orang hobbynya selalu tersenyum, ya walaupun dia kategori waras seh.
“bu…bang andre ini sekolah diSMA Swasta Brahma loh bu”, aku rasa dia sedikit
terkejut saat tau bahwa aku yang dimaksud enna masih SMA apa dia ingat aku ngak
seh “ibu juga ngajar disitu enna” dia seakan2 menjawab itu seperti tak pernah
melihat aku, “jadi kamu kelas berapa nak”, tanyanya padaku “saya kelas XII IPA
bu” aku menjawab dengan sangat singkat, sedikit jengkel seh karena dia lupa
denganku. “ya uda bang antar bu dina, alnya dah kemaleman ntar bu dina dimarahi
lagi” enna mendorong-dorong aku kearah wanita itu dan aku melihatnya hanya
tersenyum.
Sesampainya dikos-kosan bu dina,
aku melihat suasana kos yang cukup rame dan saat itu pula teman-temannya yang
kurasa juga lebay langsung bersorak “cie…sapa tuh din/kak din, kenalin donk”,
aku ngerasa dia cukup tenang buat menjawwab pertanyaan teman2nya dan aku
mencoba bersikap ramah dengan terseenyum kearah mereka “ooo…ini siswaku,
namanya, hmmm…sapa nak?” tanyanya padaku, buset neh ibu guru pelupa banget ya
“andre bu” aku menjawab dengan sangat cepat “o iya andre”, dia mengulangi
menyebut namaku. Mungkin ngak ada yang percaya saat bu dina mengucapkan namaku
perasaanku seperti ntah lah ngak tau mau bilang apa. Lalu setelah itu aku
langsung pamitan pulang.
Aku ngak tau apakah tingkahku
yang aneh ini sangat membuat bu dina ngak nyaman atau malah sebaliknya, kebiasaanku
yang paling cool buat perubahaan ini, aku menyuruh aldy buat pulang sendiri
atau nga bawa motornya lagi kesekolah ya jelas alasanku banyak banget padahal cuma
satu alasan aku ingin mengantar bu dina pulang. Aku ngak apa2 kalau dikatakan
ojek buat bu dina yang jelas bu dina ngak capek2 lagi nunggu ataupun didalam
angkot. Dan berkat enna, aku dan bu dina jadi sering pulang dan makan bareng,
hadehhh… benar-benar guru yang cantik.
Senang kurasa kalau setiap
pulang bu dina mau aku antar ya biasa alasanku cuma enna, heeheee… weitzz
tunggu dulu kenapa semua mata hampir tertuju padaku, ya emang biasanya juga
gitu tapi pandangan kali ini sangat aneh dan benar-benar aneh, “loe pacaran
sama bu dina yang Guru baru itu ya ndre” sebuah suara membuat lamunanku terpecah
hingga beberapa mata terhenti menatapku “apa seh kau al” aku melihat sinis
kearah aldy, penuh dengan kecurigaan “seharusnya aku yang ngelihat loe kayak
gitu, kenapa jadi loe, jawab yang jujur, ini rahasia kita, loe pacaran sama bu
dina ya” aldy menatapku penuh keyakinan berharap dia dapat jawaban “ya ngaklah,
bu dina itu guru kita, dia guru les adek aku si enna, kok loe bisa ngomong gitu
seh” tanyaku dengan sedikit kehati-hatian, “loe seh buat sensasi, kasian bu
dina kan dia guru baru, digosipin sama anak sma, playboy lagi, kan semua mata
makhluk yang berjenis kelamin wanitakan jadi benci banget liat dia” aldy
menjelaskan sangat detail tapi aku ngak paham-paham juga “maksud loe apa?” aku
terdiam sejenak merenungi kata-kata aldy “sini aku kasi liat, tuh perhatikan bu
dina” aldy menunjuk kearah bu dina dengan hati-hati “cantik, emang apa salah”
pletakk… sebuah pukulan mendarat dikepalaku “andre, gue serius, perhatikan
sekeliling bu dina, mata semua guru, siswi seperti pengen ngenerkam ibu tuh,
neh semua karena ulah loe, bego” aldy pengen ninju aku lagi sampai aku tangkis
“sakit…”.
Aku tak memperdulikan gosip yang
ada, kecuekanku tetap aku pertahankan, dan pulang sekolah aku beranikan kembali
dengan mengajak bu dina pulang bareng “bu…pulang bareng lagikan”, sesaat
setelah aku mengatakan itu pada bu dina beberapa siswa dan guru yang saat itu
berpapasan dengan bu dina melihat sinis kearahnya, aku menyadari itu tapi aku
tetap cuek aja. “ngak usah nak, ibu pulang mau naek angkot saja karena sudah
ada janji mau ketempat saudara”, bu dina mencoba memberi alasan yang cukup baik
ke aku, dan aku tau itu hanyalah sebuah kebohongan buat nolak ajakanku “ya
udah, andre antar bu”, aku tetap pengen ngajak bu dina dan apa yang kudapat, bu
dina berjalan tanpa memperdulikanku kearah angkot.
Aku bergegas membawa motor
kerenku yups pagi ini aku berencana untuk menjemput bu dina dari kosannya dan
itu akan jadi satu kesempatan buatku supaya bisa mengantar bu dina kesekolah.
“bu…aku pergi bareng ibu ya” dengan percaya diri aku menawarkan buat mengantar
bu dina kesekolah, aku melihat kearah bu dina dan teman kosnya ya yang bisa aku
tebak pasti sangat aneh melihat aku yang menjemput bu dina hari ini. Dan yups
tanpa ancang-ancang apapun bu dina naik kemotorku dan memegang baju seragamku,
tak kuhiraukan lagi teman kosnya yang melihat aneh kearahku. “ibu turun disini
aja ya” bu dina langsung turun dari motorku sesaat setelah kami sampai padahal
aku belum lagi mempersilahkan bu dina turun dan aku mengawasi kekhawatiran bu
dina dengan tatapan aneh yang ada disekeliling kami, dan seperti biasa aku
hanya cuek aja.
Hari yang aneh buatku dan itu
sangat mengusikku, dari pagi sampai saat ini mata mereka tak henti menatap
sinis, uggghhh… “loe ngak ngerasa apapun” aldy sekarang tepat disampingku tanpa
kusadari “astaga, kau seperti hantu, rasa apa dy?” tanyaku penasaran
“hmmm…benar-benar anak yang terlalu percaya diri sekali ya, ditatap sinis pun
tak merasa, dijadikan bahan gosip pun seperti orang budek. Andre temanku sayang
tapi bego, berita loe ama bu dina jadi trend topic now, paham” aldy hendak
seperti ingin meninju kearahku sampai aku harus menjauh darinya, “hmm… emang
kenapa kan ngak ada yang aneh” dengan gaya kerenku (memegang dagu dan kurasa
itu jadi kesenangan buat para wanita), aku tetap tak mengerti, pletak… kali ini
jitakan aldy sampai juga kekepalaku “isss… sakit tau” aku memijat-mijat ringan
kepalaku “andre bego, loe bisa aja cuek karena loe ngak ada perasaan tapi bu
dina yang dibully sekarang loe ngak bisa nanggapi dengan kecuekanmu, liat tuh”
aldy menunjuk kearah bu din a yang berjalan kearah kantor kepala sekolah. Aku
memperhatikan jalan cepat bu dina menuju ruang kepala sekolah, perubahan yang
luar biasa ‘apa sih salahnya kalau aku suka sama bu dina’ aku berfikir
keras, buat apa bu dina kekantor kepala sekolah. “biar loe paham ayo ikut gue”
aldy menarik aku yang masih bingung.
Aku mendengarkan semua
pembicaraan bu dina dan pak kepala sekolah secara perlahan-lahan tanpa ketauan
siapapun bersama aldy.hufffttt… aku menghela nafasku sangat panjang, O. M aku
buat bu dina dapat masalah, gila… “jadi bapak andre yang oon, uda mengerti
ngak” aldy menepuk pundakku, aku masih ngak bisa percaya masalahnya sampai jadi
begini. “apa coba salahnya aku suka sama bu dina” tanyaku kearah aldy,
lagi-lagi tangan aldy hendak meluncur kearah kepalaku tapi kuhindari “ssshhh…
benar-benar ya, kenapa coba kamu bisa juara, andre… loe emang nga salah, tapi
wantu dan keadaan yang salah dihadapan loe” aku ngak ngerti ama kata-kata aldy,
kelihatannya aku benaran bego deh “maksudnya apaan seh” aku melebarkan tanganku
menandakan nga ngerti “andre, bu dina itu pantasnya jadi kakak atau tante kita
kalau diluaran, kalau disekolah berarti Guru kita, jadi loe ngak bisa menyukai
bu dina sesuka jidat loe” aldy menggertakkan giginya kearahku. Akhirnya aku
paham maksud aldy “tapi al…” aku mau menjelaskan tapi aldy dengan cepat
memotong “ngak ada tapi-tapian, loe harus ngerti posisi bu dina paham” aldy
memperingatkanku.
Selama pembelajaran aku ngak
bisa konsen apalagi suasana yang masih aneh kurasa.
Setelah pertemuan bu dina dengan
kepala sekolah, keadaan jadi sedikit membaik walaupun masih ada yang penasaran “hai… bu…”
aku mengejutkan bu dina karena
kulihat responnya yang kaget, aku duduk disebelahnya saat
diperpustakaan “iya andre” bu
dina masih tetap tersenyum “maaf membuat ibu jadi bahan gosip tapi itu…” aku belum menyudahi kata-kataku
tapi dengan senyumnya bu dina sudah menghentikanku bicara “ngak ada
masalah lagi kok saya sudah tak merasa apapun, jadi tak perlu hiraukan saya,
kalau boleh bersikap biasa saja ya nak” dia berlalu dari bangkunya yang
bersebelahan denganku. Dan aku hanya terpaku mendengar
kata-katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar