Selasa, 28 Oktober 2014

kau dan ceritaku



KAU DAN CINTAKU
VERSI ANDRE SYAHPUTRA WINATHA

            Dilapangan basket aku asyik mendribeel bola yang ada ditanganku, ya aku harus sedikit berakting ditengah lapangan maklum saja aku bisa dikatakan cwo paling cool dan keren seantero sekolah, sedikit PD, but that’s me. Kumainkan bola hingga aku memasukkan bola itu kedalam keranjangnya, saat aku teriak memberikan ekspresi senangku kecwe2 alay yang mengagumi aku yang sekarang ada mengelilingi lapangan basket mataku tertuju pada sosok wanita yang membuat aku tak lepas menatapnya, wanita cantik yang ada didepan mataku memikat hatiku, kuperhatikan baju yang digunakannya dan yups high heels yang membedakan antara Guru dan Siswa, berarti dia Guru baru atau yang tak pernah kusadari ada buat mengajar disekolah kami, tapi sumpah ini kali pertama aku melihat dia. “andre…andre” teriakan wanita2 alay ini membuyarkan lamunanku dan kulihat wanita itu telah berlalu. Aku seperti melihat sesuatu yang terjatuh, tanpa disadari makhluk-makhluk yang ada didekatku saat ini, pelan-pelan aku mengambil yang terjatuh tadi. Hmmm…. Sebuah gambar lebih tepatnya foto, wajah cantik yang kulihat tadi terlihat jadi gambar yang kupegang, dengan cepat foto yang kupegang kini masuk kedalam saku celanaku. Dan aku hanya tersenyum.
            Kuhabiskan sisa waktuku didalam kelas dengan belajar, maklum selain wajahku yang ganteng, pintar dilapangan basket, aku juga idola bagi guru2 karena kepintaranku, ehmm… itulah kenyataannya diriku.
            Lonceng menandakan pulang pun berbunyi cepat kuambil motorku dan aku yang daritadi sedang memikirkan wanita yang ada dipinggir lapangan basket itu ingin mendahuluinya agar aku bisa memberikan tumpangan buatnya. Kulihat dia sedang asyik berdiri sendiri yang aku rasa dia sedang menunggu angkot buat menjemputnya. Kugas motorku tapi tiba2 “hei… whats up bro, ngapain loe, mau ninggalin gue” seseorang yang sangat kukenal dan tak asing buatku siapa lagi kalau bukan temanku yang aneh bin ajaib aldi “sorry bro hari ini loe mungkin numpang yang lain ya dy, bye” aku melajukan motorku dan mengarah kearah wanita yang sedang berdiri dengan tampang yang menyedihkan itu. “siang bu…”, aku menyapanya dengan kesopananku “siang…”, dia membalas sapaanku dan membuat aku senang banget karena dia tersenyum “ibu mau saya antar”, aku menawarkan tumpangan padanya dan kuharap semua tau jawaban apa yang aku inginkan yups aku ingin dia angguk2 buat menyetujui tawaranku atau minimal bilang yes. “ngak usah terima kasih, saya bisa pulang naik angkot saja”, dia tersenyum padaku, tapi jawabannya membuat aku kesal dan rasanya ufftt ntahlah, seumur2 aku yang selalu menolak perempuan setiap ingin naik kemotorku ini tapi hari ini seorang wanita yang bisa kuanggap kakak atau malah tanteku malah menolak tawaranku, oo God. Tanpa ancang2 aku melajukan motorku dengan cepat. Tak kuhiraukan aldy yang teriak2 minta aku goncengin.
            Welcome my home sweet home, aku berjalan lemas menuju rumahku setelah kuparkirkan motor kerenku itu. Aku masih merasakan perasaan yang aneh saat aku melihat ekspresi wanita yang dipanggil guru itu. Ntah perasaan apa ini tapi seakan aku masih berusaha untuk membawanya naik kemotor kerenku.
            Hanya tiduran dan baca comiklah kerjaanku dikamar ini, semua menanyakan kepintaranku, aku pun dulu sangat ragu kenapa aku sangat pintar, ternyata aku menemukan jawabannya, Tuhan itu adil, Ia menciptakan manusia itu tak sempurna tapi sangat special salahsatu makhluk Tuhan yang special dan sangat special itu ya aku. Ngak perlu kan aku menerjemahkan maksud kata2ku.
            “bang… bang andre, antar guruku dunk” teriakan enna membangunkanku seketika. Kalau dibiarkan lama teriakan enna bisa memecahkan apa saja yang ada disini. Enna masuk kekamarku dan menarik2 baju dalamanku “apa seh na, abangkan lagi tidur neh” o iya sebelum lupa, enna adekku satu2nya ingat satu2nya jadi kalau ada ngebahas tentang adekku yang lain itu diluar kendaliku, ia masih kelas 1 smp dan aku sangat sayang dia. “ngak abang uda bangun, tuh tadi ngomong, wew… antar guruku dung” dengan sedikit manja eh ngak deh, banyak manja dia narik2 aku lagi. Kulihat kearahnya yang unyu2, aku memang ngak sanggup kalau membuat tampang adekku yang satu2nya itu jadi unyu banget. “iya…iya tapi bolehkan abang ganti kaos dulu, kan ngak mungkin antar guru enna pake kaos kutang, ngak sopankan” aku membuat tampang imut2ku kearahnya yang membuat dia seperti mau muntah,mungkin enek ngelihat aku gitu “uwekk…tampang abang nga usah sok imut gitu napa, ya udah deh, enna tunggu dipintu cepat…” itulah enna senangnya memerintah.
            Cuma sebentar saja aku berberes2 ria, kulihat wanita yang sekarang tepat ada didepanku. Ini namanya Takdir dan kata orang kalau jodoh nga lari kemana “malam bu…”, aku menyapanya, dia masih kelihatan manis walaupun ya kurasa belum mandi hampir sama seperti aku, “maaf ya bu tadi agak lama, bang andre seh susah banget”, enna tersenyum pada gurunya dan sekaligus guruku itu dan sesekali menyenggol aku “oya, ngak apa-apa” dia pun hanya tersenyum, pantes aja dia manis orang hobbynya selalu tersenyum, ya walaupun dia kategori waras seh. “bu…bang andre ini sekolah diSMA Swasta Brahma loh bu”, aku rasa dia sedikit terkejut saat tau bahwa aku yang dimaksud enna masih SMA apa dia ingat aku ngak seh “ibu juga ngajar disitu enna” dia seakan2 menjawab itu seperti tak pernah melihat aku, “jadi kamu kelas berapa nak”, tanyanya padaku “saya kelas XII IPA bu” aku menjawab dengan sangat singkat, sedikit jengkel seh karena dia lupa denganku. “ya uda bang antar bu dina, alnya dah kemaleman ntar bu dina dimarahi lagi” enna mendorong-dorong aku kearah wanita itu dan aku melihatnya hanya tersenyum.
Sesampainya dikos-kosan bu dina, aku melihat suasana kos yang cukup rame dan saat itu pula teman-temannya yang kurasa juga lebay langsung bersorak “cie…sapa tuh din/kak din, kenalin donk”, aku ngerasa dia cukup tenang buat menjawwab pertanyaan teman2nya dan aku mencoba bersikap ramah dengan terseenyum kearah mereka “ooo…ini siswaku, namanya, hmmm…sapa nak?” tanyanya padaku, buset neh ibu guru pelupa banget ya “andre bu” aku menjawab dengan sangat cepat “o iya andre”, dia mengulangi menyebut namaku. Mungkin ngak ada yang percaya saat bu dina mengucapkan namaku perasaanku seperti ntah lah ngak tau mau bilang apa. Lalu setelah itu aku langsung pamitan pulang.
Aku ngak tau apakah tingkahku yang aneh ini sangat membuat bu dina ngak nyaman atau malah sebaliknya, kebiasaanku yang paling cool buat perubahaan ini, aku menyuruh aldy buat pulang sendiri atau nga bawa motornya lagi kesekolah ya jelas alasanku banyak banget padahal cuma satu alasan aku ingin mengantar bu dina pulang. Aku ngak apa2 kalau dikatakan ojek buat bu dina yang jelas bu dina ngak capek2 lagi nunggu ataupun didalam angkot. Dan berkat enna, aku dan bu dina jadi sering pulang dan makan bareng, hadehhh… benar-benar guru yang cantik.
Senang kurasa kalau setiap pulang bu dina mau aku antar ya biasa alasanku cuma enna, heeheee… weitzz tunggu dulu kenapa semua mata hampir tertuju padaku, ya emang biasanya juga gitu tapi pandangan kali ini sangat aneh dan benar-benar aneh, “loe pacaran sama bu dina yang Guru baru itu ya ndre” sebuah suara membuat lamunanku terpecah hingga beberapa mata terhenti menatapku “apa seh kau al” aku melihat sinis kearah aldy, penuh dengan kecurigaan “seharusnya aku yang ngelihat loe kayak gitu, kenapa jadi loe, jawab yang jujur, ini rahasia kita, loe pacaran sama bu dina ya” aldy menatapku penuh keyakinan berharap dia dapat jawaban “ya ngaklah, bu dina itu guru kita, dia guru les adek aku si enna, kok loe bisa ngomong gitu seh” tanyaku dengan sedikit kehati-hatian, “loe seh buat sensasi, kasian bu dina kan dia guru baru, digosipin sama anak sma, playboy lagi, kan semua mata makhluk yang berjenis kelamin wanitakan jadi benci banget liat dia” aldy menjelaskan sangat detail tapi aku ngak paham-paham juga “maksud loe apa?” aku terdiam sejenak merenungi kata-kata aldy “sini aku kasi liat, tuh perhatikan bu dina” aldy menunjuk kearah bu dina dengan hati-hati “cantik, emang apa salah” pletakk… sebuah pukulan mendarat dikepalaku “andre, gue serius, perhatikan sekeliling bu dina, mata semua guru, siswi seperti pengen ngenerkam ibu tuh, neh semua karena ulah loe, bego” aldy pengen ninju aku lagi sampai aku tangkis “sakit…”.
Aku tak memperdulikan gosip yang ada, kecuekanku tetap aku pertahankan, dan pulang sekolah aku beranikan kembali dengan mengajak bu dina pulang bareng “bu…pulang bareng lagikan”, sesaat setelah aku mengatakan itu pada bu dina beberapa siswa dan guru yang saat itu berpapasan dengan bu dina melihat sinis kearahnya, aku menyadari itu tapi aku tetap cuek aja. “ngak usah nak, ibu pulang mau naek angkot saja karena sudah ada janji mau ketempat saudara”, bu dina mencoba memberi alasan yang cukup baik ke aku, dan aku tau itu hanyalah sebuah kebohongan buat nolak ajakanku “ya udah, andre antar bu”, aku tetap pengen ngajak bu dina dan apa yang kudapat, bu dina berjalan tanpa memperdulikanku kearah angkot.
Aku bergegas membawa motor kerenku yups pagi ini aku berencana untuk menjemput bu dina dari kosannya dan itu akan jadi satu kesempatan buatku supaya bisa mengantar bu dina kesekolah. “bu…aku pergi bareng ibu ya” dengan percaya diri aku menawarkan buat mengantar bu dina kesekolah, aku melihat kearah bu dina dan teman kosnya ya yang bisa aku tebak pasti sangat aneh melihat aku yang menjemput bu dina hari ini. Dan yups tanpa ancang-ancang apapun bu dina naik kemotorku dan memegang baju seragamku, tak kuhiraukan lagi teman kosnya yang melihat aneh kearahku. “ibu turun disini aja ya” bu dina langsung turun dari motorku sesaat setelah kami sampai padahal aku belum lagi mempersilahkan bu dina turun dan aku mengawasi kekhawatiran bu dina dengan tatapan aneh yang ada disekeliling kami, dan seperti biasa aku hanya cuek aja.
Hari yang aneh buatku dan itu sangat mengusikku, dari pagi sampai saat ini mata mereka tak henti menatap sinis, uggghhh… “loe ngak ngerasa apapun” aldy sekarang tepat disampingku tanpa kusadari “astaga, kau seperti hantu, rasa apa dy?” tanyaku penasaran “hmmm…benar-benar anak yang terlalu percaya diri sekali ya, ditatap sinis pun tak merasa, dijadikan bahan gosip pun seperti orang budek. Andre temanku sayang tapi bego, berita loe ama bu dina jadi trend topic now, paham” aldy hendak seperti ingin meninju kearahku sampai aku harus menjauh darinya, “hmm… emang kenapa kan ngak ada yang aneh” dengan gaya kerenku (memegang dagu dan kurasa itu jadi kesenangan buat para wanita), aku tetap tak mengerti, pletak… kali ini jitakan aldy sampai juga kekepalaku “isss… sakit tau” aku memijat-mijat ringan kepalaku “andre bego, loe bisa aja cuek karena loe ngak ada perasaan tapi bu dina yang dibully sekarang loe ngak bisa nanggapi dengan kecuekanmu, liat tuh” aldy menunjuk kearah bu din a yang berjalan kearah kantor kepala sekolah. Aku memperhatikan jalan cepat bu dina menuju ruang kepala sekolah, perubahan yang luar biasa ‘apa sih salahnya kalau aku suka sama bu dina’ aku berfikir keras, buat apa bu dina kekantor kepala sekolah. “biar loe paham ayo ikut gue” aldy menarik aku yang masih bingung.
Aku mendengarkan semua pembicaraan bu dina dan pak kepala sekolah secara perlahan-lahan tanpa ketauan siapapun bersama aldy.hufffttt… aku menghela nafasku sangat panjang, O. M aku buat bu dina dapat masalah, gila… “jadi bapak andre yang oon, uda mengerti ngak” aldy menepuk pundakku, aku masih ngak bisa percaya masalahnya sampai jadi begini. “apa coba salahnya aku suka sama bu dina” tanyaku kearah aldy, lagi-lagi tangan aldy hendak meluncur kearah kepalaku tapi kuhindari “ssshhh… benar-benar ya, kenapa coba kamu bisa juara, andre… loe emang nga salah, tapi wantu dan keadaan yang salah dihadapan loe” aku ngak ngerti ama kata-kata aldy, kelihatannya aku benaran bego deh “maksudnya apaan seh” aku melebarkan tanganku menandakan nga ngerti “andre, bu dina itu pantasnya jadi kakak atau tante kita kalau diluaran, kalau disekolah berarti Guru kita, jadi loe ngak bisa menyukai bu dina sesuka jidat loe” aldy menggertakkan giginya kearahku. Akhirnya aku paham maksud aldy “tapi al…” aku mau menjelaskan tapi aldy dengan cepat memotong “ngak ada tapi-tapian, loe harus ngerti posisi bu dina paham” aldy memperingatkanku.
Selama pembelajaran aku ngak bisa konsen apalagi suasana yang masih aneh kurasa.
Setelah pertemuan bu dina dengan kepala sekolah, keadaan jadi sedikit membaik walaupun masih ada yang penasaran “hai… bu…” aku mengejutkan bu dina karena kulihat responnya yang kaget, aku duduk disebelahnya saat diperpustakaan “iya andre” bu dina masih tetap tersenyum “maaf membuat ibu jadi bahan gosip tapi itu…” aku belum menyudahi kata-kataku tapi dengan senyumnya bu dina sudah menghentikanku bicara “ngak ada masalah lagi kok saya sudah tak merasa apapun, jadi tak perlu hiraukan saya, kalau boleh bersikap biasa saja ya nak” dia berlalu dari bangkunya yang bersebelahan denganku. Dan aku hanya terpaku mendengar kata-katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar